Masih Volatil, IHSG Tiba-Tiba Menguat 0,39% ke 7.309 di Akhir Sesi II

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Masih Volatil, IHSG Tiba-Tiba Menguat 0,39% ke 7.309 di Akhir Sesi II yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Namun, kesepakatan ini bergantung pada kesediaan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi global.

Pemerintah Teheran menyatakan akan menghentikan operasi defensif jika serangan terhadap wilayahnya dihentikan sepenuhnya.

Masih Volatil, IHSG Tiba-Tiba Menguat 0,39% ke 7.309 di Akhir Sesi II Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 725405, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260409162456-17-725405/masih-volatil-ihsg-tiba-tiba-menguat-039-ke-7309-di-akhir-sesi-ii’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Redaksi,  CNBC Indonesia 09 April 2026 16:45 Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,39% pada perdagangan hari ini, Kamis (9/4/2026).

Nilai transaksi mencapai Rp 17,01 triliun, melibatkan 29,05 miliar saham dalam 2,24 juta kali transaksi.

Kapitalisasi pasar pun terkoreksi menjadi Rp 12.956 triliun.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

Baca: RUPS OCBC (NISP) Sepakati Dividen Rp1,06 Triliun

Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor perdagangan menguat dengan kenaikan paling dalam dicatatkan oleh sektor infrastruktur dan energi.

Sedangkan penggerak utama kinerja IHSG adalah emiten konglomerasi seperti BREN, TPIA, BYAN dan MSIN.

Pasar keuangan Indonesia hari ini diharapkan melanjutkan tren penguatan meskipun banyak dibayangi sentimen negatif.

Indeks naik ke level 7.307,59 atau menguat 28,38 poin. Kenaikan ini terjadi setelah indeks seharian berkutat di zona merah usai melesat tajam pada perdagangan kemarin melalui kenaikan lebih dari 4%.

Sebanyak 374 saham turun, 278 naik, dan 164 tidak bergerak.

Ia menyebut pelanggaran meliputi penolakan hak Iran untuk memperkaya uranium, serangan Israel di Lebanon, serta masuknya drone ke wilayah udara Iran.

Di pasar saham, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,6% sementara Kosdaq bergerak datar.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut akan menghentikan serangan terhadap Iran selama dua minggu sebagai dasar untuk membuka ruang negosiasi.

Trump juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai cukup layak untuk menjadi dasar perundingan.

Meski sebelumnya condong ke pemangkasan sejak 2024, jumlah pejabat yang mempertimbangkan kenaikan kini bertambah dibanding Januari.

Mayoritas peserta menilai risiko inflasi meningkat, terutama jika harga energi tetap tinggi dan mendorong inflasi inti.

Sementara itu, kontrak Dow Jones Industrial Average melemah 32 poin atau kurang dari 0,1%.

Pada perdagangan sebelumnya di Wall Street, pasar saham AS melonjak tajam setelah pengumuman gencatan senjata tersebut.

Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 1.325,46 poin atau 2,85% ke 47.909,92, menjadi kenaikan harian terbaik sejak April 2025.

Indeks S&P 500 naik 2,51% ke 6.782,81, sementara Nasdaq Composite melonjak 2,80% ke 22.635,00.

Hal ini terjadi setelah parlemen Iran menuduh AS melanggar kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang sebelumnya diumumkan.

Melansir CNBC, Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengumumkan gencatan senjata “dua arah” setelah lebih dari satu bulan konflik berlangsung melalui Iran.

Perkembangan perang yang tidak sesuai harapan serta risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan nada hawkish bisa menekan saham hingga rupiah.

Sementara itu, pasar saham Asia-Pasifik dibuka bergerak bervariasi pada Kamis (9/4/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.

Di Jepang, Nikkei 225 naik tipis 0,12% dan Topix menguat 0,26%, sedangkan S&P/ASX 200 melemah 0,24%.

Sementara itu, harga minyak dunia melonjak seiring ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.

Selain itu, Israel juga dilaporkan menyetujui gencatan senjata tersebut, meskipun situasi di kawasan masih rapuh.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, kemudian menuduh AS telah melanggar kesepakatan tersebut.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate untuk Mei naik 2,3% menjadi US$96,63 per barel, sedangkan Brent kontrak Juni naik 1,87% ke US$96,50 per barel.

Di pasar berjangka AS, kontrak S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,1%.

Adapun sektor dengan pelemahan terbesar hari ini adalah finansial dan properti.

Emiten perbankan tercatat menjadi pemberat utama kinerja indeks hari ini, melalui BBCA, BBRI dan BMRI menjadi tiga teratas laggard perdagangan sesi pertama.

Adapun saham-saham yang paling aktif diperdagangkan oleh investor dengan nilai transaksi paling besar pagi ini termasuk BUMI, BBCA, BBRI, BMRI dan DEWA.

Kenaikan ini terjadi setelah konflik lima pekan yang sempat menutup jalur penting pasokan energi global mulai mereda.

Sentimen lain yang ikut menjadi perhatian investor adalah terkait arah keputusan The Fed.

Sejumlah pejabat Federal Reserve mulai membuka peluang kenaikan suku bunga setelah inflasi tetap di atas target 2%, terutama dipicu lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, menurut risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret.

The Fed mengadopsi pendekatan “dua arah”, memberi sinyal suku bunga bisa naik atau turun tergantung arah inflasi.

Ekspektasi inflasi jangka panjang juga dinilai berisiko naik.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260331154954-19-722851/video-inflasi-bisa-melonjak-efek-perang-suku-bunga-berpotensi-naik”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/722851?comscore=off”,”time”:526,”title”:”Video: Inflasi Bisa Melonjak Efek Perang, Suku Bunga Berpotensi Naik”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/03/31/harga-minyak-inflasi-terancam-meroket-suku-bunga-berpotensi-naik-1774947953298_169.png”}]’); Next Article IHSG Sesi 1 Ditutup Melemah 0,24% ke Level 8.399

Analisis mendalam tentang Masih Volatil, IHSG Tiba-Tiba Menguat 0,39% ke 7.309 di Akhir Sesi II akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *