Minyak Membara karena Perang Iran: Tembus US$ 80-OTW US$ 100 per Barel

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Minyak Membara karena Perang Iran: Tembus US$ 80-OTW US$ 100 per Barel yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Pasalnya, Qatar uang menjadi eksportir utama gas alam cair, juga terkena serangan balasan Iran.

Qatar menjadi basis pangkalan militer Amerika selain beberapa negara lain, seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirates Arab (UEA) serta Irak.

Tetapi, ujarnya, harga di atas US$100 tidak dapat dikesampingkan.

“Jika blokade Selat Hormuz berlanjut, tidak peduli seberapa banyak kapasitas cadangan (dalam cadangan strategis) tidak akan mampu mengisi kesenjangan itu.

Akibat gejolak ini, transportasi pengangkutan 20% minyak global melalui Selat Hormuz yang dikuasai Iran bisa terganggu.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

“Dalam situasi seperti itu, biaya asuransi menjadi sangat mahal,” kata Kepala Riset Timur Tengah dan OPEC+ Kpler, Amena Bakr, dimuat AFP.

“Harga bisa mencapai US$90,” ujarnya.

Hal sama juga dikatakan analis di Rystad Energy, dalam sebuah catatan, Jorge Leon.

Pada perdagangan awal, minyak jenis Brent naik menjadi sedikit di atas US$80 per barel dibandingkan melalui harga penutupan US$72,87 pada Jumat.

Sebenarnya harga Brent, patokan internasional untuk minyak mentah, telah naik sejak minggu lalu saat Presiden AS mengancam serangan ke Iran di tengah negosiasi nuklir.

Meskipun beberapa infrastruktur alternatif dapat digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, dampak bersih dari penutupannya akan mengakibatkan hilangnya pasokan minyak mentah sebesar 8 juta hingga 10 juta barel per hari.

Secara teori, negara-negara pengimpor minyak memiliki cadangan, melalui anggota OECD diharuskan untuk mempertahankan stok minyak selama 90 hari.

Faktor penyebabnya adalah ia telah menjanjikan harga rendah kepada para pemilih Amerika Serikat sebelum pemilihan paruh waktu di akhir tahun ini.

(sef/sef) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260128114741-19-705963/video-perak-dan-peta-baru-ekonomi-global”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/705963?comscore=off”,”time”:501,”title”:”Video: Perak dan Peta Baru Ekonomi Global”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/01/28/cnbc-indonesia-tv-1769577131585_169.png”}]’); Next Article Harga Minyak Bergerak Mendatar, Pasar Cerna Gencatan Senjata Gaza yang mengakibatkan Menurutnya, Iran kemungkinan akan berusaha mempertahankan harga minyak mentah yang tinggi untuk memaksa Trump mundur,

Kesenjangan itu terlalu besar,” kata Bakr.

Harga gas juga diperkirakan akan melonjak pada hari Senin.

Tetapi jika berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama, maka akan berdampak resesi tambahan,” katanya.

Saham dan Trump

Di pasar saham, beberapa sektor mungkin akan diuntungkan pada hari Senin, seperti sektor pertahanan.

Harga gas juga melonjak, yang memainkan peran utama dalam periode kenaikan harga yang berkepanjangan.

“Kenaikan harga bensin, harga energi yang lebih tinggi, peningkatan biaya pengiriman, dan hilangnya pendapatan untuk transportasi udara dapat berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi,” kata ekonom IESEG School of Management Paris, Eric Dor.

“Jika hanya berlangsung selama tiga hari, itu tidak serius.

Tetapi Dor justru mengatakan ia memperkirakan akan terjadi “penurunan” harga saham, terutama di sektor transportasi udara, transportasi maritim, dan pariwisata.

Sementara itu, analis lain di Kpler, Michelle Brouhard, menggambarkan harga minyak yang tinggi sebagai “titik lemah Trump”.

Di sana berdiri pangkalan terbesar militer AS di Timur Tengah, Al Udeid.

Perlu diketahui, terakhir kali harga minyak mentah naik di atas US$100 adalah pada awal perang di Ukraina.

Faktor penyebabnya adalah Perang Iran: Tembus US$ 80-OTW US$ 100 per Barel Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 714977, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260302070312-17-714977/minyak-membara-karena-perang-iran-tembus-us–80-otw-us–100-per-barel’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); sef,  CNBC Indonesia 02 March 2026 07:35 Foto: Minyak di tengah serangan AS-Israel ke Iran (Infografis Aristya Rahadian Krisabella)

Jakarta, CNBC Indonesia– Harga minyak melonjak di Asia Senin (2/3/2026) menyusul gejolak di Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. yang mengakibatkan Internasional Minyak Membara

Analisis mendalam tentang Minyak Membara karena Perang Iran: Tembus US$ 80-OTW US$ 100 per Barel akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *