Bupati Cianjur Jadi Terkaya di Jawa, Tapi Rakyatnya Hidup Menderita

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Bupati Cianjur Jadi Terkaya di Jawa, Tapi Rakyatnya Hidup Menderita yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Pola ini sudah muncul sejak era kolonial dan terus berulang hingga kini, mencerminkan ketimpangan yang mengakar dalam sejarah kekuasaan di Indonesia.

Salah satu contoh mencolok terjadi di Cianjur, Jawa Barat, pada awal abad ke-19.

Kabupaten diposisikan sebagai panggung, melalui bupati sebagai aktor utama yang harus menampilkan kemegahan.

“Kabupaten adalah ibarat panggung pertunjukan dengan bupati sebagai pemeran utama yang harus berakting hebat,” ungkap Nina.

Pada akhirnya, sejarah menunjukkan pola yang terus berulang.

Menurut sejarawan Nina Herlina Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan, 1800-1942 (1998), para bupati merupakan kelompok paling kaya di wilayahnya.

Bupati Cianjur Jadi Terkaya di Jawa, Tapi Rakyatnya Hidup Menderita Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 729843, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260425195028-17-729843/bupati-cianjur-jadi-terkaya-di-jawa-tapi-rakyatnya-hidup-menderita’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Ferry Sandy,  CNBC Indonesia 25 April 2026 22:00 Foto: Pendopo kantor Bupati Cianjur.

(Dok.detikcom)

Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena pejabat bergaya hidup mewah di tengah kondisi rakyat yang sulit bukanlah hal baru.

Faktor penyebabnya adalah hasil komoditas perkebunan yang melimpah.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

Kemakmuran tersebut terutama ditopang oleh produksi kopi yang sangat besar. yang mengakibatkan Wilayah ini dikenal sebagai daerah yang sangat makmur di Pulau Jawa, terutama

Mereka memperoleh pemasukan dari gaji, pajak, hingga praktik feodalisme yang tidak tertulis.

Baca: 20 Negara Terkaya Dunia 2026: Amerika Tersungkur Jauh di Bawah

Namun, kemakmuran itu tidak dirasakan oleh rakyat.

Kerja keras para petani menjadi fondasi kekayaan daerah, tetapi hasilnya lebih banyak mengalir ke kas kolonial dan dinikmati oleh elite lokal, termasuk bupati.

Terlebih, Bupati Cianjur justru dikenal melalui gaya hidup mewah.

Di saat pulangnya mereka membawa candu, tembakau, dan katun, barang-barang yang akan dijual kepada kepala bawahannya,” tulis Breman.

Kemewahan ini bahkan berdampak langsung ke daerah lain.

Jan Breman mencatat, sang bupati kerap berkeliling menggunakan kereta berlapis emas, layaknya bangsawan besar.

“Layaknya tuan besar konsumtif, mereka berbelanja barang mewah melalui harga tinggi.

Pada 1806, produksinya bahkan mencapai sekitar 1,5 juta kopi.

Kekayaan ini kemudian mengangkat posisi elite lokal, termasuk bupati.

Pegawai kolonial asal Belanda, Multatuli, dalam novelnya Max Havelaar (1860), menyoroti bagaimana kunjungan Bupati Cianjur ke Lebak justru membebani wilayah yang disinggahi.

Baca: Jarang Disadari, 11 Makanan Minuman Ini “Haram” Buat Otak

Menurutnya, bupati datang melalui rombongan besar yang harus ditanggung oleh daerah setempat.

“Ratusan orang itu yang semuanya harus ditampung dan diberi makan, begitu juga kuda-kudanya,” tulis Multatuli.

Menurut Nina Herlina Lubis, kondisi ini tidak lepas dari cara pandang kekuasaan saat itu.

Dalam catatan sejarah, Cianjur menjadi salah satu pusat produksi kopi utama di wilayah Priangan, bahkan mencapai angka produksi yang sangat tinggi pada masanya.

Baca: Dokter Muda di Cianjur Meninggal Gegara Campak, Kemenkes Buka Suara

Kondisi ini turut mengangkat status sosial para elite lokal, termasuk bupati, yang menikmati limpahan kekayaan dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu.

Sejarawan Belanda Jan Breman dalam bukunya Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Perdagangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870 (2014) mencatat, pada masa tanam paksa (1830-1870), Cianjur menjadi penghasil kopi terbesar di wilayah Priangan.

Rakyat justru menanggung beban berat dari sistem tanam paksa kopi.

Kekuasaan kerap berjalan beriringan melalui kemewahan elite, sementara rakyatnya tetap menanggung penderitaan.

(haa/haa) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260421162621-19-728601/video-siasat-bisnis-angkutan-laut-operasional-migas-hadapi-2026″,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/728601?comscore=off”,”time”:450,”title”:”Video: Siasat Bisnis Angkutan Laut & Operasional Migas Hadapi 2026″,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/04/21/siasat-bisnis-angkutan-batu-bara-operasional-migas-hadapi-gejolak-2026-1776764875428_169.png”}]’); Next Article Alasan Sebenarnya Kenapa Tak Ada Tuyul Curi Uang di Bank

Analisis mendalam tentang Bupati Cianjur Jadi Terkaya di Jawa, Tapi Rakyatnya Hidup Menderita akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *