Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Perusahaan Raksasa Asing Rugi Besar, Purbaya Dituduh Jadi Biang Kerok yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.
Meski demikian, kebenciannya terhadap VOC justru semakin kuat.
📚 Artikel Terkait yang Direkomendasikan
Pada periode yang sama, kondisi VOC sebenarnya tidak sedang baik-baik saja.
Dari sanalah kisah perjuangan Pangeran Purbaya melawan dominasi perusahaan asing berakhir.
(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260518170918-19-735693/video-dpr-kritik-rupiah-melemah–purbaya-ri-jauh-dari-krisis-1998″,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/735693?comscore=off”,”time”:480,”title”:”Video: DPR Kritik Rupiah Melemah – Purbaya: RI Jauh Dari Krisis 1998″,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/05/18/rupiah-ihsg-anjlok-dalam-hingga-purbaya-sebut-ri-jauh-dari-krisis-1998-1779099528365_169.png”}]’); Next Article Modal Cangkul, Guru SD Dapat Harta Karun Miliaran di Halaman Sekolah
Rakyat dan kalangan kerajaan Jawa menolak mengakui nilai baru mata uang VOC.
Untuk memastikan Purbaya tidak lagi memiliki pengaruh politik maupun memicu perlawanan baru, VOC memutuskan membuangnya ke Sri Lanka.
Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1999), Purbaya merupakan putra Pakubuwana I dan adik dari Amangkurat IV.
Daya beli pegawai VOC pun merosot dan kebijakan ekonomi perusahaan di Jawa mengalami kekacauan.
Di tengah situasi itu, VOC mulai mencari pihak yang dianggap bertanggung jawab.
Di sisi lain, keuangan Mataram juga tertekan setelah VOC membebankan biaya perang kepada kerajaan hingga menimbulkan utang yang terus menumpuk.
Situasi makin rumit setelah Amangkurat IV wafat pada 1726 dan digantikan putranya, Pakubuwana II, yang saat itu baru berusia 15 tahun.
Namun, perlawanan tersebut gagal setelah VOC bergerak cepat menyerang dan mengusir para pemberontak dari basis mereka di Mataram.
googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); Baca: Putra Orang Terkaya Pilih Jadi Biksu, Tinggalkan Harta Rp90 Triliun
Perjuangan itu berakhir pada Mei-Juni 1723 ketika para pemberontak yang tersisa menyerah.
Dampak dari hal tersebut adalah merugikan perusahaan tersebut.
Namun kebijakan tersebut tidak berjalan sesuai harapan. akibat Saat itu VOC secara sepihak menaikkan nilai mata uang utamanya sebesar 25% sebagai respons atas kebijakan Mataram yang sebelumnya menurunkan nilai mata uang VOC
Di bawah pengaruh ibunya, Pakubuwana II berkomitmen melunasi kewajiban kepada VOC meski kas kerajaan sedang kosong.
“Raja berjanji membayar 10.000 real setiap tahun selama 22 tahun untuk menutup bunga dan utang, 15.600 real setiap tahun untuk membiayai garnisun VOC di Kartasura dan 1.000 koyan (1.700 metrik ton) beras selama 50 tahun,” tulis Ricklefs.
Baca: Prabowo “Curhat” ke Siswa Sekolah Rakyat: Saya Juga Sering Diejek
Jika dikonversi menggunakan kurs saat ini, kewajiban 10.000 real tersebut setara sekitar US$10.000 atau sekitar Rp180,95 juta per tahun, sedangkan 15.600 real setara sekitar Rp282,28 juta per tahun.
Ketegangan antara Purbaya dan VOC semakin memuncak pada 1735.
Akibatnya, VOC harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memperoleh nilai tukar yang setara melalui mata uang yang beredar di masyarakat.
Sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam Pengantar Sejarah Indonesia Baru (1987) mencatat, pada November 1719 Purbaya bersama Pangeran Blitar dan sejumlah bangsawan lainnya memimpin pemberontakan terhadap Amangkurat IV yang didukung VOC.
Sosok tersebut adalah Pangeran Purbaya, bangsawan Mataram yang dikenal keras menentang campur tangan VOC dalam urusan kerajaan.
Menurut sejarawan M.C.
Pada 1737, ia diangkat menjadi patih atau tangan kanan raja.
Sejumlah pos perdagangan di Nusantara mengalami kerugian, sementara biaya operasional membengkak akibat berbagai konflik dan pemberontakan.
Di bawah tekanan politik yang terus meningkat, ia akhirnya diserahkan kepada VOC.
Penyerahan tersebut menjadi kemenangan besar bagi VOC.
Perusahaan Raksasa Asing Rugi Besar, Purbaya Dituduh Jadi Biang Kerok Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 740762, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260607124157-17-740762/perusahaan-raksasa-asing-rugi-besar-purbaya-dituduh-jadi-biang-kerok’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); MFakhriansyah, CNBC Indonesia 07 June 2026 13:30 Foto: (foto: Ist/Blog maisyafarhati.com)
Jakarta, CNBC Indonesia – Jauh sebelum Indonesia merdeka, ada satu tokoh dari Kesultanan Mataram yang namanya sempat dituding menjadi penyebab kerugian besar perusahaan asing terbesar pada masanya, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Berbeda melalui sang kakak yang memilih bekerja sama dengan VOC, Purbaya justru menentang dominasi perusahaan dagang Belanda tersebut di lingkungan istana Mataram.
Penolakan itu kemudian berkembang menjadi perlawanan terbuka.
Namun kekuatan politiknya mulai melemah setelah saudara perempuannya yang merupakan istri Pakubuwana II meninggal dunia pada 1738 usai melahirkan.
Kehilangan dukungan penting di lingkungan istana membuat posisi Purbaya semakin terjepit.
Perusahaan dagang raksasa tersebut menuding Purbaya menghasut rakyat agar tidak mematuhi aturan yang mereka keluarkan.
Meski dituding sebagai biang kerok, pengaruh Purbaya di lingkungan istana justru menguat.
Berdasarkan laporan sejumlah bangsawan yang berseberangan dengannya, Purbaya dituduh menjadi aktor di balik penolakan masyarakat terhadap kebijakan moneter VOC.
Analisis mendalam tentang Perusahaan Raksasa Asing Rugi Besar, Purbaya Dituduh Jadi Biang Kerok akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.
📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.
Sumber asli: https://www.equityworld-futures.com
📢 Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
📌 Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures: Klik di sini (Official website utama)
- Demo Account EWF: Klik di sini (Akun demo untuk latihan trading)
- Registrasi Online: Klik di sini (Pendaftaran member baru)
- Historical Data Trading: Klik di sini (Data historis pasar)
- Kontak Resmi: Klik di sini (Hubungi customer service)
- Profil Perusahaan: Klik di sini (Tentang PT Equityworld Futures)
🏢 Kantor Cabang Equityworld Futures:
PT Equityworld Futures memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia:
⚠️ Peringatan Risiko: Trading futures mengandung risiko kerugian yang signifikan. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami produk dan risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil masa depan.
