Harga Minyak Terbang Lagi, Perang di Hormuz Jadi Ancaman

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Harga Minyak Terbang Lagi, Perang di Hormuz Jadi Ancaman yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

(Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak dunia kembali melesat pada perdagangan Rabu (15/7/2026) dan bertahan di level tertinggi dalam sekitar satu bulan.

Reuters melaporkan militer AS menggempur sistem pertahanan pantai serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah Iran di Pulau Greater Tunb.

Serangan berlangsung dalam dua gelombang sebagai bagian dari upaya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup Iran.

Washington menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk menghancurkan kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.

Risiko inilah yang membuat pelaku pasar bersedia membayar premi lebih tinggi untuk kontrak minyak dalam beberapa hari terakhir.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyampaikan Iran ingin mencapai penyelesaian konflik dan kembali membuka jalur diplomasi.

Trump mengaku kedua pihak telah berkomunikasi, meski secara bersamaan ia menegaskan AS siap melanjutkan operasi militer apabila negosiasi gagal.

Pasar untuk sementara masih menempatkan perkembangan militer sebagai faktor dominan.

Harga Minyak Terbang Lagi, Perang di Hormuz Jadi Ancaman Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 751225, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260716100115-17-751225/harga-minyak-terbang-lagi-perang-di-hormuz-jadi-ancaman’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia 16 July 2026 11:20 Foto: iIustrasi ledakan kilang minyak.

Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menjadi bahan bakar utama kenaikan harga setelah Washington memperluas operasi militernya terhadap fasilitas pertahanan Teheran di sekitar Selat Hormuz.

Mengacu Refinitiv, hingga Kamis (16/7/2026) pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent kontrak September (LCOc1) ditutup di US$85,72 per barel, naik 1,17% dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di US$84,73 per barel.

Jalur pelayaran sempit tersebut sebelumnya mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.

Negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyebut negaranya sedang menghadapi “perang eksistensial melalui Amerika”.

Sejak penutupan 10 Juli, Brent sudah melonjak sekitar 12,8%, sedangkan WTI menguat hampir 12,2%, memperlihatkan premi risiko geopolitik kembali mendominasi perdagangan energi global.

Sentimen utama datang dari meningkatnya operasi militer AS terhadap Iran.

Garda Revolusi Iran (IRGC) kemudian mengklaim telah menyerang target-target militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania menggunakan rudal serta drone.

Kuwait menyatakan berhasil mencegat empat rudal dan 21 drone Iran.

Pada saat yang sama, Angkatan Laut AS mengaku telah menghentikan sebuah kapal tanker yang menuju Pulau Kharg setelah kapal tersebut mengabaikan sejumlah peringatan.

Iran merespons melalui nada keras.

Sementara West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$80,12 per barel, menguat 0,98% dari posisi US$79,34 per barel.

//

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

Kenaikan tersebut memperpanjang reli minyak selama empat hari beruntun.

Iran telah menyatakan penutupan selat sejak akhir pekan lalu, sementara aktivitas militer membuat banyak kapal belum dapat melintasi kawasan tersebut secara normal.

Gangguan pada jalur energi terpenting dunia itu memicu kekhawatiran pasokan global akan semakin ketat apabila konflik terus meningkat.

Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal dan ancaman terhadap arus ekspor energi Timur Tengah masih tinggi, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap akan bertahan dalam jangka pendek.

CNBCΒ Indonesia

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260622104120-19-744546/video-emas-terpuruk-tapi-harga-minyak-meroket-efek-panas-selat-hormuz”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/744546?comscore=off”,”time”:219,”title”:”Video: Emas Terpuruk Tapi Harga Minyak Meroket Efek Panas Selat Hormuz”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/06/22/harga-emas-terpuruk-tapi-harga-minyak-meroket-efek-panas-selat-hormuz-1782102867059_169.png”}]’); Next Article Harga Minyak Ambruk Lagi, Brent Turun ke Level US$76 per Barel

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, perkembangan tersebut memperlihatkan konflik telah meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk.

Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz.

Analisis mendalam tentang Harga Minyak Terbang Lagi, Perang di Hormuz Jadi Ancaman akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

πŸ“‹ Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *