Harga Pertamax Naik, BI Ramal Bakal Pengaruhi Inflasi 0,25%

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Harga Pertamax Naik, BI Ramal Bakal Pengaruhi Inflasi 0,25% yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Faktor penyebabnya adalah adanya gangguan pasokan dari global, risiko tekanan inflasi yang meninggi juga akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Ramalan risiko inilah yang membuat BI harus menaikkan suku bunga acuan lagi pada bulan ini sebesar 25 basis points, menjadi 5,75%. yang mengakibatkan Selain

Budiman Deputi Gubernur Bank Indonesia dalam acara pengumuman hasil rapat dewan Gubernur, Oktober 2024 melalui cakupan tahunan.

Dampak dari hal tersebut adalah menyebabkan potensi imported inflation di dalam negeri.

“Dan menjadi perhatian adalah tentunya tentang rambatan global, yaitu harga-harga minyak dan komoditas ke dalam negeri, atau kita sebut dengan imported inflation, dan yang kedua ini belum terjadi tapi kita baru alert untuk menghadapinya, yaitu gangguan cuaca,” tegas Aida.

Dari dalam negeri, tekanan inflasi menurutnya akan terjadi setelah pemerintah menaikkan harga-harga BBM non subsidi, seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, meski ada yang juga tengah mengalami penurunan yaitu Dexlite dan Pertamina Dex.

Kontribusi dari kenaikan harga BBM yang tergolong ke dalam harga yang diatur pemerintah atau administered price ini terhadap inflasi kata Aida akan mencapai 0,25%.

“Tentunya ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi. akibat Sehingga total sudah terjadi kenaikan dua kali BI rate pada Juni 2026.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); Baca: BI Wanti-wanti Ada ‘Momok Baru’ Mengintai RI

“Itu sebagai salah satu pertimbangan kita kenaikan BI rate, yaitu sebagai langkah forward looking, pre-emptive untuk memastikan inflasi dalam dua tahun ke depan 2026-2027 tetap terkendali dalam sasaran 2,5% plus minus 1%,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat konferensi pers secara daring, Kamis (18/6/2026).

Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengatakan, risiko inflasi secara global yang akan mencuat ialah harga-harga minyak dan komoditas yang tengah bergejolak,

Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25% kepada inflasi,” ujarnya.

Selanjutnya, tekanan inflasi menurutnya juga akan tercakup ke dalam golongan harga pangan harga bergejolak atau volatile food, termasuk harga pupuk.

Faktor penyebabnya adalah produksi pupuk di dalam negeri masih mampu mengimbangi permintaan.

“Sementara nanti El Nino mungkin sekitar akhir Juni sampai Oktober atau November, tetapi berbagai macam koordinasi juga sudah dilakukan, termasuk persiapan di daerah,” tegas Aida.

Baca: Dirut-Dirut Bank BUMN Bertemu Prabowo, Bos Danantara Bilang Gini

Dengan berbagai pertimbangan risiko tekanan inflasi itu, Aida mengatakan, secara keseluruhan kenaikan inflasi ke depannya masih akan bergerak di kisaran target pemerintah 2,5% plus minus 1% dengan perkiraan tertinggi ialah di level 3,5%.

“Memang proyeksi inflasi ini mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5% plus minus 1%, jadi paling tinggi kita 3,5% ini masih dalam target tersebut,” ujar Aida.

(arj/arj) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260617093404-19-743258/video-bank-sentral-jepang-kerek-suku-bunga-tertinggi-dalam-31-tahun”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/743258?comscore=off”,”time”:78,”title”:”Video: Bank Sentral Jepang Kerek Suku Bunga Tertinggi Dalam 31 Tahun”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/06/17/bank-sentral-jepang-kerek-suku-bunga-tertinggi-dalam-31-tahun-1781668620266_169.png”}]’); Next Article Bos BI Warning Inflasi RI Bakal Naik, Ini Pemicunya! yang mengakibatkan Namun, Aida menekankan, dampak tekanan harga di kelompok volatile food sangat minimal terhadap inflasi

Harga Pertamax Naik, BI Ramal Bakal Pengaruhi Inflasi 0,25% Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 743813, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260618161551-17-743813/harga-pertamax-naik-bi-ramal-bakal-pengaruhi-inflasi-025’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Robertus Adrianto,  CNBC Indonesia 18 June 2026 16:17 Foto: Aida S.

(Tangkapan layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) mewanti-wanti potensi tekanan inflasi di Indonesia akan semakin tinggi.

Analisis mendalam tentang Harga Pertamax Naik, BI Ramal Bakal Pengaruhi Inflasi 0,25% akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *