Satu per Satu Bank di RI “Hilang” Kini Sisa 105, Ini Penyebabnya

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Satu per Satu Bank di RI “Hilang” Kini Sisa 105, Ini Penyebabnya yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Berdasarkan data yang dipaparkan, kelompok Bank KBMI 4 menguasai 52,88% total aset industri perbankan, sementara KBMI 3 memiliki porsi 25,80%, KBMI 1 sebesar 13,45%, dan KBMI 2 sebesar 7,88%.

Baca: Misbakhun Soal Konsolidasi Bank: Jangan Hanya Diukur dari Modal

Konsentrasi aset tersebut menunjukkan bahwa industri perbankan Indonesia bertumpu pada sekitar 12 hingga 20 bank terbesar.

Sisanya disimpan sebagai laba ditahan untuk memperkuat pemodalan perseroan.

Baca: Ekonom: Sinergi Pemerintah, BI & OJK Menjadi Kunci Stabilitas Ekonomi

(tps/tps) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260520141248-19-736373/video-jurus-asuransi-perkuat-kecukupan-modal-hadapi-gejolak-global”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/736373?comscore=off”,”time”:522,”title”:”Video: Jurus Asuransi Perkuat Kecukupan Modal Hadapi Gejolak Global”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/05/20/jurus-asuransi-perkuat-kecukupan-modal-hadapi-gejolak-global-1779261811244_169.png”}]’); Next Article Misbakhun Soal Konsolidasi Bank: Jangan Hanya Diukur dari Modal

“Sehubungan melalui hal tersebut, OJK memandang perlu mendorong pertumbuhan bank yang sustainable,” kata Dian dalam keterangannya, dikutip Senin (18/5/2026).

OJK menilaiΒ  bank-bank KBMI I masih memiliki ruang untuk memperkuat permodalan dan meningkatkan skala usaha melalui langkah penguatan baik secara organik maupun anorganik.

Dampak dari hal tersebut adalah pelaksanaannya tidak dilakukan secara tergesa-gesa dan tetap sejalan dengan kapasitas masing-masing bank.

Baca: Media China Sorot Rupiah Merosot, Sebut Ini Biang Kerok

Respons Bank

PT Bank Ganesha Tbk. akibat Dian menyebut penyiapan kebijakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan stabilitas sistem keuangan, perlindungan nasabah, serta kesinambungan fungsi intermediasi,

Ketentuannya pasti diikutin. Tapi yang jawab baru CEO-nya.

Hal ini ditetapkan dalam pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Selasa (26/5/2026) lalu.

Rapat tersebut juga menetapkan absen dalam pembagian dividen tahun ini serta perombakan pengurus.

Dian mengatakan pihaknya telah menyampaikan imbauan untuk penguatan fundamental dan konsolidasi kepada bank-bank mini pada akhir bulan Oktober 2025 lalu.

Baca: RI Mau Mulai Universal Banking, Bankir Ungkap Syaratnya

OJK kemudian mengimbau setiap bank KBMI I untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan berkelanjutan atas kinerja bisnis, permodalan, kualitas aset, tata kelola, model bisnis, dan prospek jangka panjang, termasuk mengidentifikasi opsi penguatan modal dan peluang konsolidasi yang sesuai karakteristik masing-masing bank.

Dalam rapat tersebut, para pemegang saham memutuskan laba bersih yang diperoleh Bank Ganesha pada tahun buku 2025 sebesar Rp227,09 miliar, akan dipakai sebesar Rp1 miliar untuk dana cadangan wajib/umum.

Akan tetapi, ia menyebut hal itu membutuhkan pandangan visioner dari pemegang saham pengendali (PSP).

“Pendekatan anorganik melalui konsolidasi diperlukan untuk dapat menjadi dorongan terhadap kinerja bank yang dinilai mengalami stagnasi.

Antara lain, mengangkat Trisna Chandra dan Shirley sebagai direktur, serta Faisal Dharma Setiawan selaku komisaris independen Bank Ganesha.

Bahkan, Dian menyebut aksi merger dapat ditempuh oleh bank-bank mini yang kinerjanya tidak bertumbuh.

Seperti diketahui, KBMI adalah kategori bagi bank yang bermodal inti Rp3 triliun hingga Rp6 triliun, dan Bank Ganesha merupakan salah satunya.

(Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia – Lanskap industri perbankan di tanah air menunjukkan tren penyusutan yang masif sepanjang tiga dekade belakangan.

Satu per Satu Bank di RI “Hilang” Kini Sisa 105, Ini Penyebabnya Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 740595, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260606002756-17-740595/satu-per-satu-bank-di-ri-hilang-kini-sisa-105-ini-penyebabnya’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); tps,  CNBC Indonesia 06 June 2026 09:15 Foto: Ilustrasi Bank.

Di sisi lain, menyatakan pihaknya pasti memenuhi ketentuan regulator. sedangkan Komisaris Bank Ganesha, Lisawati enggan untuk berbicara banyak mengenai hal itu,

Hal ini tentu membutuhkan kejujuran dan sikap visioner dari PSP dan manajemen bank untuk melihat prospek kinerjanya kedepan dalam posisi permodalan dan kinerjanya saat ini,” tutur Dian.

Selain itu, sejak Desember 2025, OJK telah mengundang bank-bank KBMI I untuk melakukan focus group discussion (FGD) dalam rangka menyusun roadmap.

Dampaknya, jumlah bank turun drastis dibandingkan sebelum krisis, meski proses konsolidasi dinilai masih belum sepenuhnya selesai.

Di sisi lain, struktur industri perbankan saat ini masih didominasi oleh kelompok bank besar.

(BGTG) buka suara mengenai imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada bank kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I alias untuk naik kelas.

Namun, penguatan skala usaha dan permodalan tetap diperlukan agar bank-bank tersebut mampu berinvestasi pada teknologi dan meningkatkan daya saing.

Dari sisi ukuran industri, total aset bank umum tercatat mencapai Rp13.900 triliun melalui penyaluran kredit sebesar Rp8.768 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae memandang penguatan bank-bank KBMI I sebagai bagian dari agenda strategis yang perlu ditempuh secara terarah dan prudent, dalam rangka memperkuat struktur dan ketahanan perbankan nasional serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Langkah ini dipandang penting terutama mempertimbangkan dinamika perkembangan teknologi informasi, akselerasi digitalisasi perbankan, ketidakpastian kondisi ekonomi global, serta meningkatnya risiko serangan siber.

Jangan saya,” tutur Lisawati sambil tertawa.

Adapun, berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, modal inti Bank Ganesha tercatat sebesar Rp3,64 triliun.

Sementara itu, Bank Ganesha baru-baru ini telah melakukan perombakan pengurus.

Lisawati kembali menekankan bahwa pihaknya pasti akan memenuhi ketentuan regulator.

Angka tersebut jauh melampaui industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPRS yang memiliki total aset Rp210,7 triliun serta kredit Rp155,9 triliun.

Meski jumlah bank umum hanya 105 entitas, jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan 1.463 BPR dan BPRS yang beroperasi di seluruh Indonesia.

Baca: Pertumbuhan Kredit Industri Digendong Bank BUMN

OJK Dorong Konsolidasi dan Peluang Merger Bank Mini

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mendorong bank-bank kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I alias bermodal inti Rp3 triliun hingga Rp6 triliun, untuk naik kelas.

Tetapi Dian kemudian menekankan bahwa penguatan fundamental dan konsolidasi bank-bank KBMI I yang saat ini bersifat imbauan akan dievaluasi secara berkala untuk melihat tingkat keberhasilan.

Pada saat yang bersamaan pula, OJK sedang menyiapkan kerangka kebijakan dan mekanisme yang paling tepat agar penguatan permodalan bank-bank KBMI 1 dapat berlangsung secara prudent, terukur, dan berkelanjutan.

Sementara itu, masih terdapat sekitar 57 bank KBMI 1 melalui modal inti Rp3 triliun hingga Rp5 triliun yang menjadi bagian dari lanskap perbankan nasional.

Meski demikian, ia menegaskan bank-bank kecil tetap memiliki peran penting dalam melayani segmen pasar tertentu atau niche market yang belum tentu dapat dijangkau bank-bank besar.

Data mencatat agregat bank umum yang beroperasi menyusut tajam, dari kisaran 240 lembaga pada tahun 1995 menjadi hanya tersisa 105 entitas per tahun 2026.

Dalam RDPUΒ dengan Komisi XI, Jakarta, Selasa, (2/6/2026), Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Nixon LP Napitupulu memaparkan, penurunan kuantitas ini terjadi akibat bergulirnya proses konsolidasi secara organik yang didorong oleh dinamika mekanisme pasar.

“Konsolidasi itu sudah terjadi kalau kita tarik dari 1995, 30 tahun lalu hari ini dari 240 bank ke 105 bank,” ujar Nixon, dikutip Sabtu (6/6/2026).

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

Menurut Nixon, krisis moneter 1998 menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat konsolidasi sektor perbankan nasional.

Ia menyerahkan rencana realisasi untuk naik kelas itu kepada direktur utama atau CEO bank itu.

“Pokoknya kita ngikutin ketentuan OJK,” kata Lisawati singkat saat ditemui di Perbanas Institute, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, tidak ada target kapan Bank Ganesha dapat naik kelas ke KBMI II.

Analisis mendalam tentang Satu per Satu Bank di RI “Hilang” Kini Sisa 105, Ini Penyebabnya akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

πŸ“‹ Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *