Dolar Tembus Rp 17.800, Pengusaha Kini Makin Terancam!

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Dolar Tembus Rp 17.800, Pengusaha Kini Makin Terancam! yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Menurutnya, kombinasi ini sangat berat terutama bagi industri manufaktur, properti, konstruksi, retail, dan sektor yang memiliki leverage tinggi.

“Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, maka perusahaan tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja,” ujarnya.

Dia pun menyarankan dunia usaha untuk lebih fokus pada ketahanan operasional dibanding ekspansi agresif jangka pendek.

Menurutnya, perusahaan perlu menjaga likuiditas, mengelola risiko valas, memperkuat efisiensi, dan menghindari leverage berlebihan.

Namun demikian, ia juga melihat bahwa fase overshooting biasanya membuka peluang besar bagi perusahaan melalui neraca sehat.

“Setiap fase overshooting biasanya juga menciptakan peluang akumulasi aset bagi pelaku usaha yang siap,” ujarnya.

(haa/haa) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260518114049-19-735517/video-rupiah-melemah-parah-begini-proyeksi-dolar-as-ke-depan”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/735517?comscore=off”,”time”:912,”title”:”Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/05/18/rupiah-melemah-begini-proyeksi-dolar-as-ke-depan-1779079580878_169.png”}]’); Next Article Dolar Rp17.100 Tak Berarti RI Balik ke Krisis 98, Ini Alasannya

Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga dan tingginya yield membuat biaya pembiayaan ikut naik.

Baca: Mei Jadi Bulan Pahit bagi IHSG & Rupiah, Saatnya Move On!

Dolar Tembus Rp 17.800, Pengusaha Kini Makin Terancam!

Faktor penyebabnya adalah dunia usaha menghadapi tekanan ganda secara bersamaan.

Di satu sisi, pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, mesin, dan logistik. yang mengakibatkan Tekanan itu pindah ke kurs,” jelasnya.

Menurutnya, inilah alasan mengapa pelemahan rupiah saat ini terlihat jauh lebih besar dibanding beberapa indikator ekonomi lainnya.

Dampak ke Sektor Riil

Fakhrul berpendapat bahwa tekanan terhadap sektor riil saat ini mulai menjadi isu yang sangat serius

Rupiah dibuka di posisi Rp17.800/US$ atau terdepresiasi 0,14%.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau bergerak stabil.

Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, ketika harga energi global naik, maka sebagian tekanan muncul di inflasi, sebagian di fiskal, sebagian di harga domestik, dan sebagian di nilai tukar.

Namun saat adjustment domestik dibuat sangat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli, maka tekanan akhirnya berpindah terlalu besar ke rupiah.

Baca: PR Besar Dekarbonisasi Transportasi

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama.

Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 738634, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260529090640-17-738634/dolar-tembus-rp-17800-pengusaha-kini-makin-terancam’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); haa,  CNBC Indonesia 29 May 2026 10:05 Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah masih terdepresiasi pada hari pertama perdagangan setelah libur Idul Adha pada 27-28 Mei 2026.

Per pukul 09.00 WIB, DXY berada di kisaran 98,974, setelah ditutup melemah 0,19% pada perdagangan sebelumnya.

Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, berpendapat bahwa rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting, di mana pelemahannya sudah bergerak lebih dalam dibanding yang dijustifikasi oleh fundamental jangka panjang Indonesia.

Baca: Alasan Kerbau Donald Trump Batal Disembelih Jadi Hewan Kurban

Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar cerita tentang fundamental ekonomi yang buruk, tetapi lebih kepada bagaimana pasar melihat kombinasi tekanan global, arah kebijakan domestik, dan ketidakjelasan proses penyesuaian ekonomi.

“Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini.

Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respon, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/2/2026).

Fakhrul menilai bahwa rupiah saat ini seperti menjadi titik penyesuaian utama dari berbagai tekanan yang sebenarnya seharusnya tersebar ke banyak sektor ekonomi lain.

Menurut Fakhrul, saat ini terlalu banyak tekanan ekonomi yang akhirnya ditanggung oleh nilai tukar.

Analisis mendalam tentang Dolar Tembus Rp 17.800, Pengusaha Kini Makin Terancam! akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *