Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Belajar dari Sejarah, Wamenkeu Beberkan 3 Sumber Krisis di Dunia yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.
Saat itu, wilayah tersebut tidak mampu membayar utang publik atau debt crisis yang kemudian menyebabkan fiskal membengkak.
📚 Artikel Terkait yang Direkomendasikan
Belajar dari Sejarah, Wamenkeu Beberkan 3 Sumber Krisis di Dunia Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 737797, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260525123823-17-737797/belajar-dari-sejarah-wamenkeu-beberkan-3-sumber-krisis-di-dunia’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia 25 May 2026 13:20 Foto: Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta pada Rabu (11/03/2026).
Jadi terjadilah krisis fiskal di Latin Amerika,” terang Juda.
Menurutnya, Indonesia jauh dari kondisi tersebut, melalui defisit fiskal relatif terjaga di bawah 3%.
Faktor penyebabnya adalah tidak ada lagi orang yang percaya, ngeluarin bonds, tidak ada yang beli. yang mengakibatkan Tidak hanya itu, pemerintah negara-negara Amerika Latin tidak dapat menutup defisit fiskal yang melebar tersebut melalui pembiayaan.
“Defisit fiskal membengkak dan pemerintah tidak bisa lagi menutup melalui pembiayaannya
Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai melalui hari ini,” papar Juda.
(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260430171033-19-731371/video-laba-emiten-properti-terbelah-siapa-melejit-siapa-sakit”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/731371?comscore=off”,”time”:806,”title”:”Video: Laba Emiten Properti Terbelah, Siapa Melejit Siapa Sakit?”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/04/30/cnbc-indonesia-tv-1777544791056_169.png”}]’); Next Article Rahasia Habibie Menjinakkan Dolar dari Rp16.000 ke Rp6.550
Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu,” jelas Juda.
Terakhir, krisis sistem keuangan yang ditandai melalui lending besar-besaran serta bubble atau gelembung ekonomi, yang ketika mencapai puncaknya akan terjadi kolaps di sistem perbankan seperti yang terjadi di tahun 2008.
“Ketika bubble itu pecah, maka terjadi kolaps di sistem perbankan atau terjadi krisis di sistem keuangan seperti 2008 di Amerika dan sebagainya.
Hal ini tercermin dari imbal hasil atau yield SBN yang masih berada di sekitar level 6,5%-6,7%.
“Jadi krisis yang bersumber dari fiskal tidak ada tanda-tandanya,” tutur Juda.
Ia menyebut sumber kedua adalah krisis neraca pembayaran seperti pada 1997-1998, kala berbagai perusahaan berlomba-lomba untuk menarik dana dari luar negeri, melemahnya nilai tukar, hingga sudden stop alias penghentian tiba-tiba arus modal asing.
“Maka utang banyak perusahaan yang kolaps.
Kalau kita lihat historinya pengalaman-pengalaman negara-negara di dunia ini yang mengalami krisis sebenarnya ada tiga sumber krisis,” ujar Juda dalam sambutannya di Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026).
googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); Baca: Andry Hakim Jadi Standby Buyer Rights Issue CBRE
Ia menjelaskan sumber krisis pertama adalah krisis fiskal seperti yang dialami oleh negara-negara wilayah Amerika Latin pada tahun 1980-an.
Sama halnya melalui pembiayaan fiskal yang masih sangat dipercayai oleh investor domestik serta asing.
Karena tidak bisa lagi membayar utang luar negeri dan neraca pembayaran kita waktu itu memang sangat jeblok dan saat ini kalau kita lihat angka-angka neraca pembayaran kita relatif sehat dan relatif balance.
Kemenkeu/Biro KLI/Zalfa Dhiaulaq)
Jakarta, CNBC Indonesia – Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung menyebut terdapat tiga sumber krisis dari pengalaman di berbagai negara di dunia.
Ia mengatakan Indonesia masih jauh dari kondisi tersebut.
“Ada yang mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 1997-1998, kalau melihat angka-angka tadi jauh dari situasi krisis.
Analisis mendalam tentang Belajar dari Sejarah, Wamenkeu Beberkan 3 Sumber Krisis di Dunia akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.
📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.
Sumber asli: https://www.equityworld-futures.com
📢 Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
📌 Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures: Klik di sini (Official website utama)
- Demo Account EWF: Klik di sini (Akun demo untuk latihan trading)
- Registrasi Online: Klik di sini (Pendaftaran member baru)
- Historical Data Trading: Klik di sini (Data historis pasar)
- Kontak Resmi: Klik di sini (Hubungi customer service)
- Profil Perusahaan: Klik di sini (Tentang PT Equityworld Futures)
🏢 Kantor Cabang Equityworld Futures:
PT Equityworld Futures memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia:
⚠️ Peringatan Risiko: Trading futures mengandung risiko kerugian yang signifikan. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami produk dan risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil masa depan.
