Ekonom Bank Permata Bilang Rupiah Sulit ke Rp16.000/US$, Ini Alasannya

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Ekonom Bank Permata Bilang Rupiah Sulit ke Rp16.000/US$, Ini Alasannya yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Ekonom Bank Permata Bilang Rupiah Sulit ke Rp16.000/US$, Ini Alasannya Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 737732, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260525094008-17-737732/ekonom-bank-permata-bilang-rupiah-sulit-ke-rp16000-us–ini-alasannya’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia 25 May 2026 11:11 Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus bergerak melemah dalam tren penurunan yang berkepanjangan hingga memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik.

Pelemahan struktural yang terjadiΒ beberapa bulan ini membawa mata uang Garuda berada di posisi rentan di tengah lonjakan volatilitas global.

Economic Research Bank Permata dan Bloomberg

Baca: Net Sell Asing Melandai Jelang MSCI Efekftif, Saham Ini Banyak Dibuang

Beliau menekankan bahwa kalkulasi di atas kertas harus berhadapan melalui pasar yang sedang wait-and-see mengantisipasi asesmen lembaga rating global seperti S&P dan MSCI.

Hambatan terbesar yang membuat rupiah cenderung rapuh dalam jangka menengah berakar pada penurunan kinerja fundamental Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

Pembengkakan defisit transaksi berjalan yang dipicu penurunan nilai ekspor serta tingginya beban impor minyak mentah akibat konflik global menjadi faktor penekan utama.

Otoritas kini diharapkan terus memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transactions) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260518114049-19-735517/video-rupiah-melemah-parah-begini-proyeksi-dolar-as-ke-depan”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/735517?comscore=off”,”time”:912,”title”:”Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/05/18/rupiah-melemah-begini-proyeksi-dolar-as-ke-depan-1779079580878_169.png”}]’); Next Article Hukum Tarik Menarik Dolar-Rupiah, Gak Bisa Sama-Sama Kuat

Meski demikian, Josua menegaskan bahwa kebijakan moneter pro-stabilitas tersebut tidak akan pernah cukup jika harus berdiri sendirian tanpa adanya topangan dari sinergi kebijakan fiskal.

Seluruh kementerian harus memiliki visi yang sama dalam mendorong reformasi struktural agar komoditas ekspor Indonesia memiliki nilai tambah lebih dan tidak rentan terhadap siklus global.

Melihat seluruh kompleksitas risiko eksternal dan tantangan domestik yang ada, target penguatan rupiah secara drastis ke level Rp16.000-an per dolar AS dalam waktu dekat menjadi sangat berat.

Dampak dari hal tersebut adalah hitungan teoritis bahwa Juni atau Agustus rupiah bisa menguat ke Rp16.200 itu sebenarnya masih masuk akal, tetapi rupiah saat ini tidak bekerja di ruang hampa,” ujar Josua dalam forum diskusi bersama media.

Grafik Real Effective Exchange Rate USDIDR (dok. akibat Namun, Josua mengingatkan bahwa pergerakan mata uang tidak pernah steril dari dinamika geopolitik.

“Kalau kita melihat teori real effective exchange rate-nya (REER) rupiah, dalam kondisi normal itu mestinya kita berada di bawah Rp17.000,

Faktor penyebabnya adalah pertumbuhan pendapatan riil yang tidak memadai akibat kurangnya investasi padat karya.

Menghadapi situasi pelik ini, respons Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan dinilai sebagai langkah moneter yang sangat krusial demi menjaga ekspektasi pasar. yang mengakibatkan Tekanan kenaikan harga barang secara perlahan mulai mengikis daya beli masyarakat, dengan dampak paling signifikan dirasakan oleh kelompok kelas menengah yang tidak mendapatkan jaring pengaman sosial.

Baca: Misbakhun Ungkap Beda Pelemahan Rupiah Saat Krisis 1998 dan 2026

Kelompok ini terpaksa menunda rencana konsumsi jangka panjang mereka

Dampak dari hal tersebut adalah keseluruhan NPI diperkirakan masih mencatatkan hasil negatif sisa tahun ini.

Dampak dari depresiasi nilai tukar yang terus berlanjut ini pun mulai merembes ke sektor riil melalui transmisi imported inflation yang mengancam pertumbuhan ekonomi. akibat Kondisi ini membuat surplus pada pos finansial tidak lagi mampu menutupi celah defisit struktural,

Dampak dari hal tersebut adalah estimasi penguatan untuk periode Juni hingga Agustus masih memiliki landasan matematis. akibat Kondisi tersebut memicu perdebatan mengenai relevansi target optimistis otoritas moneter yang sempat memproyeksikan rupiah mampu kembali menguat ke kisaran Rp16.200 per dolar AS yang saat ini berada di rentan Rp17.700/US$.

Chief Economist PT Bank Permata TbkΒ (BNLI), Josua Pardede, menilai bahwa secara teoritis ruang bagi rupiah untuk kembali menguat ke bawah level psikologis Rp17.000/US$ sebenarnya masih terbuka.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

Baca: Media Asing Sorot Rupiah, Sebut Ini

Berdasarkan pendekatan teori nilai tukar riil efektif, posisi wajar mata uang Indonesia dalam kondisi normal memang berada jauh di bawah level saat ini,

Pergerakan nilai tukar hingga akhir tahun diproyeksikan akan lebih realistis bergerak di kisaran Rp17.000an hingga Rp17.500/US$, asalkan tidak ada aksi spekulasi valas.

Analisis mendalam tentang Ekonom Bank Permata Bilang Rupiah Sulit ke Rp16.000/US$, Ini Alasannya akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

πŸ“‹ Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *