Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Breaking News! Efek MSCI Makin Terasa, IHSG Anjlok 4,31% yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.
Dampak dari hal tersebut adalah sulit diperdagangkan.
π Artikel Terkait yang Direkomendasikan
Meski FTSE belum merilis spesifik emiten yang terancam kena tendang dalam pengumuman tersebut, sejumlah daftar saham tampaknya akan terkena dampak secara signifikan. akibat Investor institusi pengelola dana indeks (passive fund) dikhawatirkan tidak akan menemukan pembeli (counterparty) yang cukup jika harus keluar dari saham tersebut secara mendadak.
Kebijakan harga nol umumnya dilakukan oleh FTSE atas saham-saham perusahaan bangkrut yang masih ada di indeks atau saham yang lama mengalami suspensi atau terkena dampak sanksi
Efek MSCI Makin Terasa, IHSG Anjlok 4,31% Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 735469, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260518100509-17-735469/breaking-news-efek-msci-makin-terasa-ihsg-anjlok-431’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); ayh, CNBC Indonesia 18 May 2026 10:17 Foto: Muhammad Sabki
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).
IHSG memulai perdagangan hari ini turun 94,34 poin atau 1,40% ke posisi 6.447,97.
Namun dua menit setelah pasar dibuka IHSG ambruk makin dalam hingga 2,59% dan semakin parah 60 menit setelahnya melalui IHSG Anjlok 4,3% ke level 6.428.
Sebanyak 707 saham terkoreksi, 87 saham menguat, dan 167 saham bergerak stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp7,79 triliun melalui volume perdagangan 13,67 miliar saham dalam 1,15 juta kali transaksi.
googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });
Saham-saham Prajogo masih menjadi biang kerok pelemahan IHSG bersama dengan sejumlah emiten lain, termasuk DSSA, yang menjadi perhatian penyedia indeks internasional MSCI dan FTSE.
Baca: Breaking!
Faktor penyebabnya adalah FTSE menilai likuiditas saham HSC cenderung memburuk secara material. yang mengakibatkan IHSG Anjlok 3,61%, Ada Panic Selling Gegara MSCI-FTSE
Tekanan terbesar terhadap IHSG sejak akhir pekan lalu datang dari saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index.
MSCI diketahui resmi menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni: PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN); PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN); PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA); PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA); PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN); PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
Selain itu, MSCI juga mencoret 13 saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Index.
Tak lama setelah pengumuman MSCI, penyedia indeks global lainnya FTSE ikut buka suara soal masa depan saham-saham RI yang tergabung dalam indeks besutannya.
Dalam pengumuman terbaru bertajuk “Index Treatment for the June 2026 Index Review” yang dirilis Rabu (13/5/2026), FTSE memberikan sinyal keras terkait potensi penghapusan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Aturan terbaru FTSE diterbitkan menyusul upaya otoritas pasar modal Indonesia dalam meningkatkan transparansi, termasuk publikasi daftar High Shareholding Concentration (HSC).
Dalam dokumen tersebut, FTSE Russell menegaskan bahwa jika sebuah perusahaan menjadi subjek peringatan konsentrasi kepemilikan saham dari otoritas bursa dan keuangan, di mana saham beredar hanya dikuasai segelintir pihak, maka saham tersebut akan didepak dari indeks pada tinjauan berikutnya.
“Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026,” tulis pengumuman resmi tersebut.
Kebijakan “harga nol” ini diambil
Meskipun, tingkat volatilitas di pasar saham Indonesia hingga kini masih sangat tinggi dan sulit diprediksi.
(ayh/ayh) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260513085117-19-734590/videomsci-umumkan-hasil-tinjauan-berkala-6-saham-didepak-dari-daftar”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/734590?comscore=off”,”time”:169,”title”:”Video:MSCI Umumkan Hasil Tinjauan Berkala, 6 Saham Didepak dari Daftar”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/05/13/msci-umumkan-hasil-tinjauan-berkala-6-saham-didepak-dari-daftar-1778641910380_169.png”}]’); Next Article MSCI Bisa Bikin Bobot Saham RI Turun Kelas, OJK-BEI Siapkan Ini
Kontraksi saham BREN berimbas pada pelemahan 10 indeks poin.
Kemudian ada juga saham AMMN yang pekan lalu ditendang dari indeks MSCI dan menyumbang atas pelemahan 9,12 indeks poin.
Setelah lebih dari 1 jam, IHSGΒ mulai memberikan perlawanan dan perlahan mulai mulai mengikis pelemahannya ke 3,91%.
Faktor penyebabnya adalah keduanya masuk dalam daftar HSC BEI.
Baca: IHSG Tiba-tiba Dibuka Anjlok 2,59%, Ini Penyebabnya
Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor perdagangan melemah hari ini dengan tekanan paling dalam dirasakan oleh sektor infrastruktur, barang baku, energi dan teknologi.
Adapun pemberat utama IHSG pagi ini adalah saham Bank Central Asia (BBCA) yang turun 2,5% dan berkontribusi atas pelemahan 14,05 indeks poin.
Lalu ada saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang dibuka menyentuh auto rejection bawah (ARB) atau turun 15% ke Rp 880 per saham dengan kontribusi pelemahan 13,67 indeks poin.
Kemudian ada Chandra Asri Pacific (TPIA) yang juga ARB (-14,88%) ke Rp 3.660 per saham dengan sumbangan pelemahan 13 indeks poin.
Lalu ada saham Barito Renewables Energy (BREN) yang turun ke level Rp 2.880 per saham dan tidak lagi menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di RI. yang mengakibatkan Dua emiten besar selama ini identik dengan isu free float dan konsentrasi kepemilikan, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik taipan Prajogo Pangestu dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari grup Sinarmas menjadi sorotan
Analisis mendalam tentang Breaking News! Efek MSCI Makin Terasa, IHSG Anjlok 4,31% akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.
π Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.
Sumber asli: https://www.equityworld-futures.com
π’ Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
π Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures: Klik di sini (Official website utama)
- Demo Account EWF: Klik di sini (Akun demo untuk latihan trading)
- Registrasi Online: Klik di sini (Pendaftaran member baru)
- Historical Data Trading: Klik di sini (Data historis pasar)
- Kontak Resmi: Klik di sini (Hubungi customer service)
- Profil Perusahaan: Klik di sini (Tentang PT Equityworld Futures)
π’ Kantor Cabang Equityworld Futures:
PT Equityworld Futures memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia:
β οΈ Peringatan Risiko: Trading futures mengandung risiko kerugian yang signifikan. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami produk dan risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil masa depan.
