Pasar Diguncang MSCI, Yield SBN RI Tembus 7,4%, Kemenkeu Buka Suara

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Pasar Diguncang MSCI, Yield SBN RI Tembus 7,4%, Kemenkeu Buka Suara yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Mereka juga mempertimbangkan keterbukaan informasi, kepastian aturan, serta kemampuan pemerintah dalam menjaga kepercayaan terhadap iklim investasi.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20261019150309-19-777509/video-apei-berharap-ri-tak-masuk-standalone-market-apa-efeknya”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/777509?comscore=off”,”time”:541,”title”:”Video: APEI Berharap RI Tak Masuk Standalone Market, Apa Efeknya?”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/10/19/berharap-ri-tak-terlempar-ke-standalone-market-apa-efek-antisipasinya-1792397228517_169.png”}]’); Next Article Dolar Bisa Tembus Rp18.500?

IHSG mengalami penurunan tajam selama dua hari perdagangan, sementara rupiah juga terus menghadapi tekanan terhadap dolar AS.

Meski peringatan MSCI secara langsung ditujukan kepada pasar saham, kekhawatiran yang muncul berpotensi meluas ke instrumen keuangan lainnya, termasuk obligasi pemerintah.

Pasalnya, investor asing tidak hanya melihat besarnya keuntungan yang ditawarkan suatu negara.

Sebagai gambaran, melansir data Refinitiv, pada perdagangan Rabu (21/10/2026), imbal hasil SBN pemerintah tenor 10 tahun ditutup melonjak ke level 7,446%.

Pasar Diguncang MSCI, Yield SBN RI Tembus 7,4%, Kemenkeu Buka Suara Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 778688, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20261022184357-17-778688/pasar-diguncang-msci-yield-sbn-ri-tembus-74-kemenkeu-buka-suara’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Dovana Hasiana,  CNBC Indonesia 22 October 2026 18:57 Foto: Gedung Kementerian Keuangan (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) //FMG_Tag – IMPULSE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=impl’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – VIBE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=vibe’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – RC var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=rc’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – Expandedfloor var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=sf’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter);

Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Keuangan memastikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif aman meski sudah naik ke level 7% usai potensi Morgan Stanley Capital International menurunkan status pasar saham menjadi kategori standalone.

Menurutnya, yield tersebut masih tergolong kompetitif bila dibandingkan melalui negara-negara lain di Eropa.

Sekadar catatan, pemerintah menetapkan suku bunga SBN 10 tahun pada level 6,9%.

Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Jumat (16/10/2026) mengumumkan rencana konsultasi untuk mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Baca: Bursa yang Layak Dipercaya Ibu Saya

MSCI menyoroti sejumlah persoalan dalam pasar saham Indonesia, terutama kurangnya keterbukaan struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan yang terkoordinasi, hingga belum terlihatnya hasil penegakan aturan yang dinilai cukup berarti.

Meskipun otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan berbagai langkah perbaikan, MSCI menilai hasilnya belum terlihat secara konsisten.

Indonesia kini memiliki waktu untuk menunjukkan perbaikan sebelum keputusan akhir mengenai kemungkinan perubahan status tersebut diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Pengumuman tersebut langsung mengguncang pasar saham Indonesia.

Sementara, imbal hasil obligasi Jerman 10 tahun berada pada level 3,3546%.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

Kenaikan imbal hasil yang tajam menunjukkan investor kini meminta keuntungan yang lebih tinggi untuk bersedia memegang surat utang pemerintah.

Baca: Yield Surat Utang Pemerintah Naik Tajam, Siapa Menanggung Dampaknya?

Kalau dibandingkan melalui negara terutama Eropa sekarang ya yang cukup dire (mengerikan).

Faktor penyebabnya adalah ini adalah negara kita dan kita adalah negara besar,” ujar Herman kepada awak media, Kamis (22/10/2026).

Meski demikian, Herman tidak menjelaskan apakah kenaikan yield tersebut masih bisa ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. yang mengakibatkan Percaya diri sama kita sendiri,

Analisis mendalam tentang Pasar Diguncang MSCI, Yield SBN RI Tembus 7,4%, Kemenkeu Buka Suara akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *