Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Perang Bunga di Depan Mata, Warga RI Bisa Tercekik yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.
Faktor penyebabnya adalah itu, menurutnya, tantangan pemerintah dan otoritas moneter ke depan bukan hanya menjaga stabilitas moneter, tetapi juga memastikan likuiditas perbankan tetap memadai agar fungsi intermediasi tidak terganggu.
π Artikel Terkait yang Direkomendasikan
Baca: Laba PTPP Naik 196,5% Tapi Pendapatan Turun, Ini Sebabnya
Sementara itu, Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan permasalahan perbankan saat ini bukan kekurangan likuiditas, tetapi distribusi likuiditas yang tidak merata antar-bank.
“Distribusi likuiditas belum merata antar-bank, di mana bank besar (KBMI IV) cenderung lebih kuat karena basis dana murah dan ekosistem transaksi lebih luas, sementara bank menengah (KBMI II-III) lebih sensitif terhadap perpindahan dana deposan besar,” kata Josua.
Josua menambahkan, indikasi perang memang mulai muncul, tetapi masih selektif dan belum membesar.
“Indikasi perang bunga memang mulai muncul, tetapi masih selektif, belum menjadi perang bunga besar di seluruh industri,” lanjut Josua.
Pihaknya menjelaskan data simpanan per KBMI menunjukkan struktur dana sangat terkonsentrasi di bank besar, dengan posisi Mei 2026 mencatat KBMI IV mencapai Rp5.550,8 triliun, jauh di atas KBMI I, KBMI II, dan KBMI III.
“Dalam kondisi suku bunga acuan naik, SRBI menarik, SBN ritel menawarkan kupon tinggi, dan deposan besar makin sensitif terhadap imbal hasil, bank menengah harus menawarkan bunga lebih kompetitif untuk mempertahankan dananya,” jelas Josua.
(haa/haa) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260617093404-19-743258/video-bank-sentral-jepang-kerek-suku-bunga-tertinggi-dalam-31-tahun”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/743258?comscore=off”,”time”:78,”title”:”Video: Bank Sentral Jepang Kerek Suku Bunga Tertinggi Dalam 31 Tahun”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/06/17/bank-sentral-jepang-kerek-suku-bunga-tertinggi-dalam-31-tahun-1781668620266_169.png”}]’); Next Article Aksi Purbaya Selamatkan RI dari Perang Bunga Bank, Ekonomi Ngegas Lagi yang mengakibatkan Kondisi tersebut berpotensi memicu perang suku bunga deposito,” kata Rizal kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (21/7/2026).
Baca: 288.000 Warga ‘Kabur’ ke Luar Negeri dalam Setahun Terakhir
Hal ini membuat perbankan, terutama yang memiliki basis dana murah (current account, saving account/CASA) yang terbatas bakal dirugikan dari adanya perang bunga tersebut.
Akibatnya, ruang untuk menurunkan bunga kredit bagi bank-bank KBMI II dan III pun sangat terbatas.
“Jika perang bunga terjadi, cost of fund akan meningkat, margin bunga bersih (NIM) tertekan, dan ruang penurunan bunga kredit menjadi semakin sempit,” terang Rizal.
Oleh
Dampak dari hal tersebut adalah dapat memunculkan “perang bunga”.
googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });
“Keluhan mengenai ketatnya likuiditas, terutama dari bank kelompok menengah (KBMI II-III), memang mengindikasikan meningkatnya kompetisi dalam menghimpun dana masyarakat. akibat Rizal Taufikurahman mengatakan kondisi likuiditas di perbankan menengah atau Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) II dan III masih ketat,
Perang Bunga di Depan Mata, Warga RI Bisa Tercekik Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 752698, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260721180457-17-752698/perang-bunga-di-depan-mata-warga-ri-bisa-tercekik’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); chd, CNBC Indonesia 21 July 2026 19:05 Foto: REUTERS/Iqro Rinaldi
Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah ekonomΒ mengungkapkan saat ini kondisi likuiditas di Indonesia masih ketat seiring melalui tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate.
Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M.
Analisis mendalam tentang Perang Bunga di Depan Mata, Warga RI Bisa Tercekik akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.
π Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.
Sumber asli: https://www.equityworld-futures.com
π’ Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
π Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures: Klik di sini (Official website utama)
- Demo Account EWF: Klik di sini (Akun demo untuk latihan trading)
- Registrasi Online: Klik di sini (Pendaftaran member baru)
- Historical Data Trading: Klik di sini (Data historis pasar)
- Kontak Resmi: Klik di sini (Hubungi customer service)
- Profil Perusahaan: Klik di sini (Tentang PT Equityworld Futures)
π’ Kantor Cabang Equityworld Futures:
PT Equityworld Futures memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia:
β οΈ Peringatan Risiko: Trading futures mengandung risiko kerugian yang signifikan. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami produk dan risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil masa depan.
