Crazy Rich Jakarta Tak Punya Anak, Bingung Kasih Warisan ke Siapa

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Crazy Rich Jakarta Tak Punya Anak, Bingung Kasih Warisan ke Siapa yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Bruno dan Martinus memperoleh tanah di Cisarua seluas 17.500 bau, atau sekitar 14.000 hektare.

CNBC Insight Crazy Rich Jakarta Tak Punya Anak, Bingung Kasih Warisan ke Siapa Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 746158, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260627083415-17-746158/crazy-rich-jakarta-tak-punya-anak-bingung-kasih-warisan-ke-siapa’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); MFakhriansyah,  CNBC Indonesia 27 June 2026 12:45 Foto: Ilustrasi Harta Karun Emas.

Bruno wafat pada 31 Maret 1921, disusul Martinus lima tahun kemudian, tepatnya 15 Maret 1926, seperti dicatat dalam buku Genealogische en Heraldische Gedenkwaardigheden Betreffende Europeanen op Java (1935).

Di sisi lain, menghadapi persoalan yang tak biasa yaitu tidak memiliki anak sebagai penerus hartanya.

Jannus tiba di Batavia dengan kakaknya Andrianus Johannes Bik pada periode awal 1810. sedangkan Ia adalah Jannus Theodorus Bik (1796-1875), seorang tuan tanah keturunan Belanda yang memiliki kekayaan melimpah,

Berkat keahliannya, Jannus menjadi sosok penting di kalangan pelukis kala itu.

Setelah mereka wafat, lahan warisan itu dikelola oleh para keturunan, sebelum akhirnya dijual ke berbagai pihak.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260623084519-19-744882/video-ekonomi-ditopang-sektor-domestik-bi-pastikan-rupiah-terjaga”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/744882?comscore=off”,”time”:474,”title”:”Video: Ekonomi Ditopang Sektor Domestik, BI Pastikan Rupiah Terjaga”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/06/23/bi-ekonomi-ri-ditopang-sektor-domestik-bi-pastikan-rupiah-inflasi-tetap-terjaga-1782193331167_169.png”}]’); Next Article Tak Mau Terima Warisan Rp89 Triliun, Anak Crazy Rich Pilih Jadi Biksu

Ia memilih tak memperluas lahan melalui membuka hutan secara masif dan aktif dalam kegiatan sosial, termasuk menyumbang pembangunan rumah sakit dan masjid.

Ia merantau dari Belanda ke wilayah Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda untuk mengadu nasib.

Awalnya, Jannus bekerja sebagai pelukis untuk pemerintah Hindia Belanda.

Menurut Bataviaasch Nieuwsblad (14 Juni 1930), ia membiarkan para petani lokal mengelola lahan tanpa tekanan, asalkan kerja sama berjalan saling menguntungkan.

Tak hanya itu, Bruno dikenal sebagai sosok dermawan.

Lahan-lahan itu dimanfaatkan untuk perkebunan padi, kopi, dan teh.

Pilihan Redaksi

  • Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih: Dari Peluncuran ke Keberlanjutan
  • Kisah Glodok, Chinatown Terbesar RI yang Berakar dari Kolonial Belanda

Pundi-pundinya kian bertambah usai menikahi Wilhelmina Reynira Martens, janda pengusaha kaya Van Riemswijk, di era 1840-an.

Maestro lukis Indonesia, Raden Saleh, belajar langsung darinya.

Dari profesinya sebagai pelukis, Jannus mengumpulkan kekayaan.

Ketimbang boros, ia justru cerdas dalam mengelola keuangan melalui menginvestasikan hasil jerih payahnya ke tanah.

Menurut Almanak van Nederlandsch-IndiΓ« (1900), Jannus tercatat sebagai pemilik tanah di berbagai wilayah Batavia, seperti Tanah Abang, Pondok Gede, Cilebut, Ciluar, hingga Cisarua.

Bruno mengelola 9.000 bau, sementara sisanya dikelola Martinus.

Di tangan mereka, tanah warisan tersebut berkembang pesat.

Karena sikapnya itu, masyarakat lokal sangat menghormatinya sebagai “orang Belanda yang baik hati.”

Selama 50 tahun, Bruno dan Martinus mengelola tanah Cisarua.

Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia – Di balik sejarah Batavia pada abad ke-19, terdapat sosok konglomerat yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya pada masanya.

Saat itu, keduanya masih berusia 30-an tahun.

Warisan yang diterima bukan kaleng-kaleng.

Namun, pernikahan itu tak dikaruniai anak.

Menjelang akhir hayatnya, sekitar tahun 1870-an, Jannus memutuskan membagi hartanya kepada dua keponakan, Bruno dan Jan Martinus, anak dari sang adik.

Analisis mendalam tentang Crazy Rich Jakarta Tak Punya Anak, Bingung Kasih Warisan ke Siapa akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

πŸ“‹ Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *