Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Pengusaha Kakap RI Kabur ke Singapura Gegara Ditekan Pajak Pemerintah yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.
Jika di Hindia Belanda ia dituntut membayar 35 juta gulden, di Singapura ia hanya perlu merogoh kocek sebesar 1 juta gulden saja.
📚 Artikel Terkait yang Direkomendasikan
Borong Aset hingga Cetak Sejarah di Singapura
Di saat Batavia meratapi kehilangan potensi pajak yang besar, Oei justru bermanuver agresif di Singapura.
CNBC Insight Pengusaha Kakap RI Kabur ke Singapura Gegara Ditekan Pajak Pemerintah Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 743075, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260615205212-17-743075/pengusaha-kakap-ri-kabur-ke-singapura-gegara-ditekan-pajak-pemerintah’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); MFakhriansyah, CNBC Indonesia 16 June 2026 08:30 Foto: Oei Tiong Ham.
Faktor penyebabnya adalah menawarkan iklim fiskal yang jauh lebih ramah pengusaha.
Keputusan berpindah ke Singapura terbukti menjadi langkah finansial yang brilian bagi Oei. yang mengakibatkan Pilihan akhirnya jatuh pada Singapura, yang kala itu masih berada di bawah koloni Inggris,
Namun, aksi “angkat kaki” para pengusaha kakap dari tanah air ke Negeri Singa sejatinya bukan cerita baru.
Jika sepanjang tahun 2025 tercatat ada lima perusahaan kebanggaan Indonesia yang dicaplok oleh investor Singapura, kilas balik ke satu abad lalu menunjukkan drama serupa pernah terjadi dalam skala yang jauh lebih masif.
Sejarawan Onghokham dalam bukunya Konglomerat Oei Tiong Ham (1992) mencatat, total kekayaan sang Raja Gula ini menembus angka fantastis 200 juta gulden.
Jadi Sasaran Empuk Pajak Pemerintah
Namun, tumpukan harta yang luar biasa ini justru menjadi bumerang.
Ia memborong aset properti dan tanah dalam skala masif.
Di sisi lain, enggan menjadi Warga Negara Inggris.
Kisah seabad lalu ini menjadi refleksi nyata bahwa sejak dulu, kebijakan pajak yang terlampau menekan tanpa kepastian usaha justru berisiko membuat modal dan para pemain kakap memilih “terbang” ke negara tetangga.
(fab/fab) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260610120648-19-741639/video-jurus-ekspansi-bisnis-emas-hadapi-ketidakpastian-2026″,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/741639?comscore=off”,”time”:437,”title”:”Video: Jurus Ekspansi Bisnis Emas Hadapi Ketidakpastian 2026″,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/06/11/jurus-ekspansi-bisnis-emas-hadapi-ketidakpastian-2026-1781146875884_169.png”}]’); Next Article Kisah Raja Gula RI yang Diabadikan di Jalanan Singapura sedangkan Ia resmi menanggalkan status Warga Negara Hindia Belanda,
Faktor penyebabnya adalah kehilangan salah satu pembayar pajak terbesar mereka.
Berdasarkan catatan Liem Tjwan Ling dalam Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang (1979), pemerintah kolonial pernah melayangkan tagihan pajak sebesar 35 juta gulden kepada Oei. yang mengakibatkan Pemerintah kolonial Hindia Belanda yang sedang pusing menambal defisit anggaran pasca-Perang Dunia I, menjadikan Oei sebagai sasaran empuk kantong penerimaan negara.
Tekanan pajak yang kian mencekik inilah yang pada akhirnya memaksa sang taipan memilih hengkang, meninggalkan pemerintah kolonial yang gigit jari
Wikipedia) Daftar Isi
- Jadi Sasaran Empuk Pajak Pemerintah
- Singapura Jadi ‘Safe Haven’
- Borong Aset hingga Cetak Sejarah di Singapura
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.
Surat kabar Belanda, De Telegraaf edisi 19 Mei 1920, sempat melaporkan rencana Oei untuk menetap lama di Benua Biru.
Namun pada 1921, arah angin berubah.
Berpusat di Semarang, gurita bisnis OTHC menancapkan kukunya secara internasional, mulai dari India, Singapura, Jepang, hingga London.
Pilihan Redaksi
- ‘Raja Bajaj’ Korupsi Uang Rp1,3 T, Sukses Kabur dari LP Cipinang
- Jakarta Mulai Jenuh, Bos Mal Ungkap Pengusaha Mulai Incar Wilayah Ini
Saking luasnya lahan perkebunan yang dimiliki, OTHC kala itu sukses menguasai hampir separuh pasokan bisnis gula global.
Pelakunya adalah seorang raksasa bisnis legendaris, Oei Tiong Ham.
Oei Tiong Ham bukan pengusaha sembarangan.
Ia juga dikenal royal menggelontorkan donasi untuk jaringan sekolah, rumah sakit, dan berbagai aktivitas sosial di sana.
Jejak kedermawanan dan pengaruh bisnisnya yang kuat membuat nama Oei Tiong Ham diabadikan sebagai nama jalan dan nama bangunan di Singapura hingga hari ini.
Menariknya, hingga akhir hayatnya pada 6 Juli 1924, Oei Tiong Ham memilih menyandang status tanpa kewarganegaraan (stateless).
Padahal, merujuk buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003) karya Benny G.
Ia adalah pendiri Oei Tiong Ham Concern (OTHC), imperium bisnis yang berhasil merajai industri gula dunia pada tahun 1893.
Faktor penyebabnya adalah menerapkan sistem pajak yang jauh lebih progresif dan mahal. yang mengakibatkan Atas saran tim hukumnya, Eropa dinilai tidak ideal
Setiono, Oei dikenal sebagai wajib pajak yang sangat patuh dan selalu melunasi kewajibannya secara utuh.
Masalahnya, setiap kali sebuah tagihan dilunasi, pemerintah kolonial selalu menerbitkan tagihan baru yang nilainya tak masuk akal-bahkan menyedot hingga 40% sampai 50% dari total pendapatannya.
Merasa ada indikasi penyelewengan dan diperas secara sepihak, Oei akhirnya mengambil sikap tegas.
Tidak puas hanya di industri gula, Oei juga mendiversifikasi bisnisnya ke sektor perbankan, pelayaran, hingga pergudangan.
Catatan sejarah menunjukkan, total luas tanah yang dibeli Oei kala itu setara melalui seperempat wilayah Singapura, dan seluruhnya terdaftar atas nama pribadi.
Tak hanya menimbun aset, Oei juga menanamkan pengaruhnya di sektor keuangan regional.
Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena perpindahan kepemilikan perusahaan maupun konglomerat Indonesia ke Singapura belakangan ini kerap menyita perhatian publik.
Ia mencaplok perusahaan pelayaran Heap Eng Moh Steamship Company Limited dan menjadi salah satu pemilik awal saham Overseas Chinese Bank (OCB), yang kini bertransformasi menjadi raksasa perbankan Asia, OCBC.
Sebagai bentuk kontribusi sosial, Perpustakaan Nasional Singapura mencatat Oei menyumbang US$ 150.000 untuk pembangunan gedung Raffles College.
Ia menolak membayar pajak tambahan tersebut dan memilih untuk memutus total hubungannya melalui pemerintah kolonial, termasuk angkat kaki dari Hindia Belanda.
Singapura Jadi ‘Safe Haven’
Awalnya, beredar kabar bahwa sang miliarder akan memindahkan suaka bisnisnya ke Eropa.
Analisis mendalam tentang Pengusaha Kakap RI Kabur ke Singapura Gegara Ditekan Pajak Pemerintah akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.
📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.
Sumber asli: https://www.equityworld-futures.com
📢 Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
📌 Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures: Klik di sini (Official website utama)
- Demo Account EWF: Klik di sini (Akun demo untuk latihan trading)
- Registrasi Online: Klik di sini (Pendaftaran member baru)
- Historical Data Trading: Klik di sini (Data historis pasar)
- Kontak Resmi: Klik di sini (Hubungi customer service)
- Profil Perusahaan: Klik di sini (Tentang PT Equityworld Futures)
🏢 Kantor Cabang Equityworld Futures:
PT Equityworld Futures memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia:
⚠️ Peringatan Risiko: Trading futures mengandung risiko kerugian yang signifikan. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami produk dan risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil masa depan.
