Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Awas Kaget! Rupiah Diramal Bakal Seperti Ini ke Depan yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.
Melainkan seberapa kuat rupiah dalam meredam volatilitas atau gejolak indeks dolar AS.
📚 Artikel Terkait yang Direkomendasikan
“Ini sebenarnya kalau saya ngobrol-ngobrol melalui banyak pengusaha itu sebenarnya utamanya buat mereka itu bukan level atau threshold tertentu dari Rupiah.
Angka ini masih memenuhi 6 bulan kewajiban untuk kita melakukan pembayaran impor,” papar Erwin.
Kepala Ekonom BCA David Sumual sependapat melalui Erwin.
Ia mengatakan, yang pertama ialah masih rendahnya defisit transaksi berjalan Indonesia yang saat ini di kisaran 0,69% dari produk domestik bruto (PDB).
Ini disebabkan fundamental makro ekonomi Indonesia yang memang kuat untuk mendukung pertumbuhan.
Terlihat dari purchasing managers index (PMI) manufaktur yang masih di level ekspansi 50,1 pada Maret 2026, hingga pertumbuhan kredit yang masih mencapai kisaran 9,37% secara tahunan atau year on year.
“Jadi tekanan RI masih moderat dibandingkan peers.
Rasio utang di bawah batas 60%,” tutur Faisal.
(arj/haa) [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260410093100-19-725570/video-cadev-tergerus-tapi-rupiah-masih-melemah-di-rp17000-dolar-as”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/725570?comscore=off”,”time”:453,”title”:”Video: Cadev Tergerus, Tapi Rupiah Masih Melemah di Rp17.000/Dolar AS”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/04/10/cadev-tergerus-tapi-rupiah-masih-melemah-di-rp17000-per-dolar-as-1775788741714_169.png”}]’); Next Article Perbanas Ramal Rupiah Perkasa Akhir Tahun 2025, Bisa Rp16.000/US$?
Dolar AS Tembus Rp17.110 Pagi Ini
Berdasarkan catatan Bank Indonesia, indeks volatilitas rupiah memang masih menjadi yang terendah dibanding 7 negara lain, besarannya hanya 4,75.
Pelemahan yang terjadi beberapa hari terakhir menurutnya lebih disebabkan sentimen risk off investor jangka pendek terhadap kondisi eksternal, yakni perang Presiden AS Donald Trump melalui Iran.
“Jadi walaupun tadi dari sisi relative strength, rupiah itu sebenarnya layak menguat, tapi ada persoalan-persoalan jangka pendek mungkin yang dilihat oleh investor terutama portfolio,” kata David.
Baca: BI 24 Jam Tak Tidur Jaga Rupiah, dari New York sampai Hong Kong
“Karena memang dalam 70 bulan berturut-turut sebenarnya kita mengalami trade surplus.
BI mencatat, depresiasi hingga pekan ini sejak awal tahun hanya 2,91%, padahan Korea won mencapai 2,85% terhadap dolar AS, India rupee 3,08%, dan Turki lira 3,69%.
“Jadi Indonesia kuat dibanding peers, inflasi terkendali, fiskal prudent, kita jaga defisit prudent.
Meskipun, beberapa hari terakhir dalam tren pelemahan, hingga betah bertengger di level atas Rp 17.000/US$.
Salah satu yang percaya diri kurs rupiah akan mengalami penguatan dalam jangka menengah panjang ialah Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan, di dasari oleh sejumlah indikator acuan.
googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); Baca: Simulasi Dolar Rp17.000 & Harga Minyak US$84, APBN Tekor Berapa?
Di samping itu juga inflasi kita sebenarnya under control,” tegasnya.
Namun, terkait kapannya rupiah bisa menguat terhadap dolar AS, David menuturkan, hanya akan terjadi bila sentimen risk off, yakni perang berakhir dan membuat pergerakan dolar kembali normalisasi atau dalam tren penurunan indeks DXY.
Sebagaimana diketahui, saat pembukaan perdagangan pasar keuangan di Indonesia kemarin, dan rupiah langsung tertekan ke level Rp17.100/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09% dibanding perdagangan akhir pekan lalu, DXY memang tengah mengalami penguatan hebat, hingga ke level 99,01 berdasarkan data Revinitif pukul 09.00 WIB.
gelombangnya arahnya seperti apa, ya kita bermanuver melalui gelombang yang terjadi, terutama gelombang globalnya yang belum kita pastikan arahnya ke mana,” ucap David.
Selain itu, David menekankan, dalam melihat tren penguatan rupiah, juga tidak bisa hanya mengandalkan seberapa besar level penguatan yang akan dicapai.
Rupiah Diramal Bakal Seperti Ini ke Depan Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 726521, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260414085835-17-726521/awas-kaget-rupiah-diramal-bakal-seperti-ini-ke-depan’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Arrijal Rachman, CNBC Indonesia 14 April 2026 09:50 Foto: Infografis/ Dolar AS Tembus rp 17.000 Rupiah terlemah sepanjang Sejarah RI/ Aristya Rahadian
Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih memiliki kapasitas untuk menguat, menurun sejumlah ekonom dan pejabat Bank Indonesia (BI).
Didukung oleh terjaganya surplus neraca perdagangan.
“Jadi ketika neraca perdagangan kita inefisien, mau tidak mau terjadi memang koreksi pada nilai tukar.
Namun, kalau kita surplus ya nilai tukar akan cenderung menguat,” ucap Erwin.
Indikator kedua, ia sebut inflasi yang masih berada di kisaran target BI sepanjang tahun ini, 2,5% plus minus 1%, yakni 3,48% angka terakhir yang telah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2026.
Besaran cadev ini setara melalui pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Masih terjaganya level cadev ini memberi ruang bagi BI untuk menjaga jaring pengaman valas untuk melakukan intervensi ketika kurs melemah.
Angka cadangan devisa kita terakhir 148 million dolar.
Sejak Mei 2022, sejak perang Ukraina-Rusia sampai sekarang kita mengalami penguatan trade surplus kita.
Memang kelihatannya kalau kita lihat seperti bermain surfing.
Artinya, pasokan dolar darurat di dalam negeri masih tersedia untuk mengamankan stabilitas kurs.
“Ini juga fundamental yang kita gunakan untuk menjaga stabilitas dan juga memfasilitasi seluruh pembayaran luar negeri adalah cadangan devisa.
Ia mengatakan, kurs rupiah sebetulnya memang dalam posisi yang cenderung menguat.
DXY terpantau menguat 0,37% saat itu.
Baca: Belajar dari Krisis 98, BI Punya Senjata Dahsyat Amankan Pasar Uang RI
“Tidak bisa misalnya kondisi dolar menguat 3%, kita menguat juga 10% misalnya, enggak bisa seperti itu.
7 Negara itu seperti India rupee 8,92, Filipina peso 10,55, Thailand bath 12,40, Meksiko peso 13,20, Brazil real 13,69, Argentina peso 14,50, dan Afrika Selatan rand 16,34.
Depresiasi atau pelemahan kurs rupiah pun masih lebih baik dibanding banyak negara, meskipun nilainya sudah ke level Rp 17.100 per dolar AS.
Tekanan inflasi yang terjaga ini memberi ruang bagi Indonesia untuk terus memacu pertumbuhan ekonomi, yang bisa memperkuat stabilitas kurs.
“Sehingga dari sisi inflasi, fundamental kita menunjukkan bahwa stabilitas nilai rupiah dalam konteks inflasi itu terjaga,” paparnya.
Ketiga, ialah cadangan devisa yang kini masih di kisaran US$ 148,2 miliar.
Depresiasi rupiah masih terkendali,” kata Faisal dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia.
Baca: Breaking News!
“Kami sangat yakin bahwa dalam jangka menengah panjang bahwa rupiah akan punya kecenderungan untuk menguat,” kata Erwin dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, dikutip Selasa (14/4/2026).
Setidaknya ada tiga indikator yang menjadi acuan Erwin menilai, kurs rupiah akan menguat dalam periode jangka menengah panjang.
Kalau terlalu volatil seperti ada satu negara South Africa 4%-5% menguat atau melemah itu buat mereka malah menurunkan confidence mereka untuk mengambil keputusan bisnis,” tegas David.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fsikal (DJSEF) Kementerian Keuangan Noor Faisal Achmad menegaskan, terkait volatilitas rupiah, sebetulnya hingga saat ini masih lebih baik dibanding negara lain.
Analisis mendalam tentang Awas Kaget! Rupiah Diramal Bakal Seperti Ini ke Depan akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.
📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.
Sumber asli: https://www.equityworld-futures.com
📢 Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
📌 Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures: Klik di sini (Official website utama)
- Demo Account EWF: Klik di sini (Akun demo untuk latihan trading)
- Registrasi Online: Klik di sini (Pendaftaran member baru)
- Historical Data Trading: Klik di sini (Data historis pasar)
- Kontak Resmi: Klik di sini (Hubungi customer service)
- Profil Perusahaan: Klik di sini (Tentang PT Equityworld Futures)
🏢 Kantor Cabang Equityworld Futures:
PT Equityworld Futures memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia:
⚠️ Peringatan Risiko: Trading futures mengandung risiko kerugian yang signifikan. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami produk dan risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil masa depan.
