Anak Pejabat RI Hidup Melarat, Tak Sudi Menjual Nama Orang Tua

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Anak Pejabat RI Hidup Melarat, Tak Sudi Menjual Nama Orang Tua yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Kartini, yang memilih menjalani hidup sederhana bahkan dalam keterbatasan ekonomi, tanpa memanfaatkan nama besar orang tuanya.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

Nama Soesalit memang tak setenar ibunya.

Ia adalah Soesalit, putra tokoh emansipasi perempuan R.A.

(Tangkapan Layar Wikipedia)

 

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Keterlibatannya di medan perang membuat karier militernya menanjak.

Puncaknya terjadi pada 1946 saat ia diangkat menjadi Panglima Divisi II Diponegoro yang bertugas menjaga ibu kota negara di Yogyakarta.

Sementara sang ibu dikenal luas sebagai pelopor pemikiran kesetaraan perempuan di Indonesia.

Meski memiliki peluang besar untuk melanjutkan jabatan ayahnya, Soesalit memilih jalan berbeda.

Ia secara sadar menolak meniti kesuksesan melalui mengandalkan reputasi keluarga.

Soesalit lahir dari keluarga terpandang.

 

Jakarta, CNBC Indonesia – Kisah hidup seorang anak pejabat di Indonesia ini sempat menyita perhatian publik.

Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Djojadiningrat, menjabat sebagai Bupati Rembang.

Ia menjalani pelatihan di bawah tentara Jepang dan kemudian menjadi bagian dari Pembela Tanah Air (PETA).

Sikap tersebut membuatnya menjalani kehidupan sederhana sebagai veteran tanpa menuntut hak-haknya.

Hingga akhir hayatnya pada 17 Maret 1962, Soesalit tetap hidup dalam keterbatasan.

Dalam buku Kartini (2024) karya Wardiman Djojonegoro, disebutkan bahwa ia menolak tawaran menjadi bupati meskipun didesak oleh keluarga.

Sebagai gantinya, Soesalit memilih bergabung melalui militer pada 1943.

Setelah Indonesia merdeka, ia melanjutkan karier di Tentara Keamanan Rakyat.

Menurut buku Kartini: Sebuah Biografi (1979) karya Sitisoemandari Soeroto, Soesalit aktif dalam berbagai pertempuran melawan Belanda.

Faktor penyebabnya adalah ia tidak pernah mengumbar latar belakang keluarganya.

Hal ini juga diungkap oleh atasannya, Abdul Haris Nasution. yang mengakibatkan Bahkan, banyak orang tidak mengetahui bahwa dirinya adalah putra Kartini,

Ini merupakan sebuah pilihan hidup yang mencerminkan integritas dan prinsip yang dipegang teguh olehnya sejak awal.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260401091312-19-723055/video-genjot-penjualanmobil-listrik-china-tawarkan-teknologi-canggih”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/723055?comscore=off”,”time”:361,”title”:”Video: Genjot Penjualan,Mobil Listrik China Tawarkan Teknologi Canggih”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/04/01/genjot-penjualan-di-pasar-ri-mobil-listrik-china-tawarkan-inovasi-teknologi-terbaru-1775010211294_169.png”}]’); Next Article Anak Orang Penting Hidup Melarat, Ogah Jual Nama Ortu Untuk Sukses

Dalam catatannya, Nasution menyebut Soesalit sebenarnya bisa hidup layak melalui memanfaatkan nama besar ibunya.

“Dia bisa saja tidak hidup melarat dengan mengatakan bahwa dirinya satu-satunya putra Kartini,” tulis Nasution, dikutip dari Kartini: Sebuah Biografi (1979).

Namun, Soesalit tetap teguh pada prinsipnya untuk tidak “menjual” nama orang tua.

Selain itu, ia juga sempat menduduki jabatan sipil sebagai penasihat Menteri Pertahanan pada era Kabinet Ali Sastroamidjojo pada 1953.

Meski memiliki rekam jejak mentereng, Soesalit tetap memilih hidup sederhana.

CNBC Insight Anak Pejabat RI Hidup Melarat, Tak Sudi Menjual Nama Orang Tua Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 723853, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260404145049-17-723853/anak-pejabat-ri-hidup-melarat-tak-sudi-menjual-nama-orang-tua’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); MFakhriansyah,  CNBC Indonesia 04 April 2026 16:45 Foto: Putra Tunggal Kartini dan Bupati Rembang Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat.

Analisis mendalam tentang Anak Pejabat RI Hidup Melarat, Tak Sudi Menjual Nama Orang Tua akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *