[12 Maret 2026] | Sumber: News Maker 23 – Indonesia News Portal for Traders

Halo Gold Traders! Laju emas kembali tersendat. Pada perdagangan awal hari ini, harga logam mulia (bullion) tertahan di kisaran US$5.160 per ons, setelah sempat tergelincir tipis pada sesi sebelumnya.

Penyebab utamanya? Rilis data inflasi bulanan Amerika Serikat sukses menyapu bersih harapan pasar akan adanya pemangkasan suku bunga dari The Fed dalam waktu dekat, tepat di saat konflik Timur Tengah masih terus berlarut-larut.

🔥 Ancaman Inflasi “Masa Depan”

Sebelum konflik pecah, inflasi inti AS di awal tahun sebenarnya terpantau relatif jinak. Namun, fokus pasar kini telah bergeser pada ketakutan inflasi “berwawasan ke depan” (forward-looking).

  • Lonjakan harga energi dan kacaunya rantai pasok global akibat perang membuat inflasi kembali membayangi.

  • Akibatnya, peluang The Fed untuk menurunkan biaya pinjaman (suku bunga) dinilai semakin kecil.

  • Sentimen ini tidak hanya terjadi di AS; Uni Eropa pun bersiap menghadapi proyeksi tingkat inflasi yang berpotensi menembus 3% tahun ini.

⚔️ Perang Hari ke-13: Minyak Makin Dominan

Konflik yang melibatkan AS-Israel melawan Iran kini telah memasuki hari ke-13. Dampaknya terhadap produksi minyak dan aktivitas pengilangan di Timur Tengah sangat terasa.

  • Harga minyak mentah kembali naik untuk hari kedua.

  • Pasar menilai risiko jangka panjang dari perang ini masih jauh lebih dominan, bahkan mampu mengalahkan sentimen rilis cadangan darurat terbesar sepanjang sejarah oleh negara-negara maju.

  • Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa AS mungkin akan kembali menggunakan cadangan strategisnya (Strategic Petroleum Reserve/SPR) sebagai upaya terakhir menekan harga.

💰 Dilema Emas: Safe Haven vs “Mesin Likuiditas”

Bagi pergerakan emas, prospek “suku bunga tinggi lebih lama” (higher for longer) adalah hambatan besar, karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding).

Menariknya, di tengah kepanikan pasar, emas juga sering dijadikan “mesin likuiditas” oleh para investor yang butuh uang tunai untuk menambal portofolio mereka yang berdarah di sektor lain.

  • Buktinya: Sejak perang pecah pada 28 Februari, kepemilikan emas di ETF cenderung menurun secara historis. Meskipun pada hari Selasa sempat ada arus masuk, pekan lalu ETF emas justru mencatat penurunan terbesarnya dalam lebih dari dua tahun.

  • Namun secara gambaran besar (Year-to-Date), emas masih mencatatkan kenaikan yang sangat solid berkat statusnya sebagai aset lindung nilai utama saat geopolitik memanas.

📊 Update Pasar Logam (Sesi Asia)

Pada pembaruan sesi Asia hari ini, seluruh keluarga logam mulia kompak memerah:

  • Emas Spot: Turun tipis.

  • Perak, Platinum, & Paladium: Kompak melemah.

  • Indeks Dolar (DXY): Menguat tipis, memberikan tekanan ekstra bagi aset berdenominasi Dolar.


🔗 Profil Perusahaan

🔗 Ilustrasi Transaksi

🔗 Hubungi Kami

🔗 Legalitas Perusahaan

By ewfmnd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *