Konflik Iran-AS, Investor Galau Serok di Bawah atau Cabut dari Pasar

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Konflik Iran-AS, Investor Galau Serok di Bawah atau Cabut dari Pasar yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Namun jarak geografis membuat ketegangan ini belum terasa intens seperti krisis besar sebelumnya bagi investor.

Dari sisi ekonomi, lonjakan harga minyak menciptakan pergeseran antara negara yang diuntungkan dan dirugikan.

Indeks saham global di luar AS milik MSCI All Country World ex-US Index turun sekitar 6,6% dari level tertinggi sebelum serangan ke Iran dimulai.

Meski demikian, beberapa pola krisis klasik belum muncul di pasar keuangan.

Saham perangkat lunak yang sebelumnya tertekan akibat kekhawatiran persaingan kecerdasan buatan justru menguat dalam sepekan terakhir, sementara saham semikonduktor yang sempat melonjak tinggi mengalami penurunan tajam.

Hampir setengah saham dalam indeks Nasdaq-100 mencatat kenaikan selama sepekan terakhir.

Menariknya, hampir seluruh saham yang naik tersebut sebelumnya mengalami penurunan sejak awal tahun sebelum konflik dimulai.

Data dari Goldman Sachs juga menunjukkan bahwa indeks saham favorit hedge fund turun 4,7% sepanjang pekan, jauh lebih dalam dibandingkan pasar secara keseluruhan.

Namun penurunannya belum cukup besar untuk menunjukkan aksi deleveraging panik di pasar.

Jika perang berlarut-larut dan harga minyak terus naik, tekanan pada aset berisiko diperkirakan akan berlanjut.

(Tangkapan Layar Video Reutes/WANA)

Jakarta, CNBC Indonesia – Investor memulai pekan lalu melalui keyakinan bahwa serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran hanya akan menjadi konflik singkat yang dapat diabaikan pasar.

Sementara itu, indeks saham yang paling banyak diposisikan sebagai short oleh hedge fund hanya turun sekitar 1,1%.

Pergerakan ini menunjukkan hedge fund mulai menutup sebagian posisi untuk mengurangi penggunaan utang atau leverage.

Serangan terhadap Iran serta gangguan terhadap infrastruktur dan jalur pengiriman minyak di kawasan berpotensi melemahkan pesaing global produsen energi AS.

Kondisi ini juga menjelaskan penguatan dolar AS terhadap mata uang lain.

Investor belum berbondong-bondong mencari aset aman seperti obligasi pemerintah, emas, atau mata uang safe haven seperti Swiss franc.

Kepala strategi investasi AS di J.P.

Faktor penyebabnya adalah merupakan produsen sekaligus eksportir minyak terbesar di dunia. yang mengakibatkan Negara eksportir energi di luar Timur Tengah mendapat manfaat, sementara negara importir besar seperti Eropa, Jepang, dan Korea Selatan justru menghadapi tekanan biaya energi yang lebih tinggi.

Sebaliknya, Amerika Serikat relatif diuntungkan

Faktor penyebabnya adalah Sebagian Ekonom Bilang RI Resesi

Melansir The Wall Street Journal, para investor tengah bertanya-tanya apakah kekhawatiran pasar menjadi peluang untuk membeli saat harga turun atau justru sinyal untuk keluar sebelum situasi memburuk. yang mengakibatkan Situasi ini bahkan mulai dibandingkan dengan dampak ekonomi dari invasi Russian ke Ukraine yang memicu ancaman stagflasi.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); Baca: Purbaya: Dolar Rp17.000

Pepatah lama yang sering dikaitkan melalui bankir legendaris Nathan Mayer Rothschild menggambarkan gagasan tersebut, yakni membeli ketika pasar diliputi kepanikan akibat perang.

Namun tantangan terbesar adalah menentukan waktu yang tepat untuk masuk.

Pada tahap tertentu, kepanikan pasar kemungkinan akan mendorong investor beralih ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS yang dapat menekan imbal hasilnya.

Sejarah pasar menunjukkan bahwa pada akhirnya investor sering melihat periode konflik sebagai peluang membeli saham ketika harga jatuh.

Morgan Private Bank, Jacob Manoukian, mengatakan pasar mulai menyadari konflik tersebut berpotensi berdampak pada ekonomi global.

Sebelum invasi 2022, harga minyak melonjak dari US$90 ke sekitar US$120 per barel, sementara saat ini harga minyakย juga telah melonjakย ke atas US$110 per barel, melalui kenaikannya secara persentase saat ini jauh lebihย tinggi.

Pasar saham global di luar Amerika Serikat juga menunjukkan reaksi mirip dengan periode awal perang Ukraina.

Mata uang seperti euro dan yen mengalami pelemahan, sementara pasar saham AS menunjukkan penurunan yang lebih terbatas dibandingkan bursa global lainnya.

Dari sisi pasar keuangan, aset yang sebelumnya mencatat kenaikan tajam sepanjang tahun justru mengalami penurunan paling besar selama sepekan terakhir.

Bahkan, indeks S&P 500 sempat mencatat kenaikan tipis pada awal pekan lalu.

Namun pada akhir pekan, kekhawatiran meningkat bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang meluas dapat memicu guncangan global.

Investor perlu memperhatikan tanda-tanda apakah kekacauan pasar masih akan memburuk sebelum akhirnya mencapai titik balik.

(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260309103611-19-717208/video-rupiah-memerah-hingga-harga-minyak-dekati-usd-120-per-barel”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/717208?comscore=off”,”time”:446,”title”:”Video: Rupiah Memerah Hingga Harga Minyak Dekati USD 120 per Barel”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/03/09/rupiah-anjlok-lawan-dolar-as-harga-minyak-dekati-usd-120-per-barel-1773027539318_169.png”}]’); Next Article Investor Sorot China-Jepang, Bursa Asia Mayoritas Kompak Turun

Sebaliknya, sejumlah aset yang sebelumnya berkinerja buruk justru mencatat penguatan meski pasar secara keseluruhan tertekan.

Fenomena ini terlihat pada tingkat negara maupun sektor saham.

Konflik Iran-AS, Investor Galau Serok di Bawah atau Cabut dari Pasar Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 717362, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260309144624-17-717362/konflik-iran-as-investor-galau-serok-di-bawah-atau-cabut-dari-pasar’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia 09 March 2026 15:35 Foto: Kepulan asap hitam tebal terlihat membumbung dari depot minyak Sharan di Teheran pada Minggu (8/3) setelah Israel mengonfirmasi telah menyerang depot dan kilang bahan bakar di Iran sehari sebelumnya.

Bursa Korea Selatan yang sebelumnya melonjak hingga sekitar 50% sebelum perang justru mencatat penurunan paling tajam, diikuti Jepang, Inggris, dan Eropa.

Di dalam pasar saham, pola serupa juga terjadi antar sektor.

Ketidakpastian meningkat seiring konflik berpotensi meluas dan memicu tekanan pada harga energi global.

Perbandingan melalui invasi Rusia ke Ukraina menunjukkan pola serupa pada pasar minyak.

Analisis mendalam tentang Konflik Iran-AS, Investor Galau Serok di Bawah atau Cabut dari Pasar akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

๐Ÿ“‹ Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *