[24 Februari 2026] | Sumber: News Maker 23 – Indonesia News Portal for Traders

Halo Forex Traders! Indeks Dolar AS (DXY) kembali menunjukkan tajinya setelah sempat lesu selama dua hari terakhir. Pada sesi perdagangan Asia hari Selasa (24/2), DXY berbalik menguat dan bergerak di kisaran 97,80, dengan peluang besar untuk menguji level psikologis 98,00.

Saat ini, para pelaku pasar sedang menahan napas menanti rilis data tenaga kerja, seperti ADP Employment Change, serta komentar dari para pejabat The Fed yang akan menjadi penentu arah Greenback selanjutnya.

⚖️ Hantu “Trade Uncertainty”: Drama Tarif Babak Baru

Meskipun sedang menguat, Dolar AS masih dibayangi awan gelap ketidakpastian perdagangan global (trade uncertainty).

  • Tarif Section 232: Pemerintahan Presiden Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan penerapan tarif keamanan nasional untuk sekitar enam industri melalui Section 232 (ini terpisah dari rencana tarif global 15%).

  • Reaksi Global: Rencana ini langsung memicu reaksi keras dari mitra dagang AS. Uni Eropa memberikan sinyal bahwa mereka dapat menahan ratifikasi kesepakatan dagang dengan AS. Selain itu, pertemuan dagang antara India dan AS untuk menyelesaikan pakta interim juga terpaksa ditunda.

  • Keraguan Pasar: Pelaku pasar sendiri meragukan umur dari kebijakan tarif ini, karena kemungkinan akan sulit untuk diperpanjang melewati batas waktu 150 hari.

🦅 The Fed “Wait & See”: Peluang Pangkas Maret Cuma 5%

Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur The Fed, Christopher Waller, menegaskan bahwa dukungannya terhadap potensi pemangkasan suku bunga pada rapat bulan Maret akan sangat bergantung pada rilis data pasar tenaga kerja bulan Februari.

Sikap kehati-hatian ini tercermin jelas di pasar swap, yang saat ini hanya memberikan peluang sangat kecil (sekitar 5%) untuk terjadinya pemangkasan sebesar 25 basis poin pada bulan Maret. Ini menandakan bahwa The Fed masih kukuh pada posisi “tunggu kepastian data” sebelum mengambil langkah.

📉 Proyeksi: Penguatan DXY Masih Rapuh?

Ke depannya, Dolar AS berpotensi mendapat tekanan tambahan. Mengapa?

  • Ekspektasi pasar terkait pemangkasan suku bunga AS di tahun 2026 (sekitar 50 bps) masih tetap terbentuk kuat.

  • Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) diproyeksikan masih bisa menaikkan suku bunganya, sementara European Central Bank (ECB) diperkirakan akan menahan kebijakannya.

Kesimpulan: Kombinasi antara diferensial (perbedaan) suku bunga antar bank sentral dan ketidakpastian kebijakan tarif membuat penguatan DXY saat ini rentan tidak stabil. Arah angin bisa dengan mudah berbalik menekan Dolar jika sentimen risiko global kembali memburuk.


🔗 Profil Perusahaan

🔗 Ilustrasi Transaksi

🔗 Hubungi Kami

🔗 Legalitas Perusahaan

By ewfmnd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *