Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Lewati 5 Kali Krisis, Portofolio Lo Kheng Hong Pernah Amblas 85% yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.
Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa tidak menggunakan utang dan memiliki dana tunai untuk memanfaatkan peluang menjadi hal penting dalam menghadapi gejolak pasar saham.
📚 Artikel Terkait yang Direkomendasikan
(asr/asr) [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20261104094238-19-782148/video-ojk-tetapkan-sanksi-di-3-kasus-pelanggaran-pasar-modal”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/782148?comscore=off”,”time”:84,”title”:”Video: OJK Tetapkan Sanksi di 3 Kasus Pelanggaran Pasar Modal”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/11/04/ojk-tetapkan-sanksi-di-3-kasus-pelanggaran-pasar-modal-1793764919120_169.png”}]’); Next Article Video: OJK Tetapkan Sanksi di 3 Kasus Pelanggaran Pasar Modal
Investasi tersebut kemudian dipertahankan dalam jangka panjang hingga memberikan keuntungan besar.
Selanjutnya, krisis keempat terjadi pada 2020 ketika pandemi Covid-19 melanda dunia dan menekan harga saham di berbagai bursa.
Dampak dari hal tersebut adalah turut menekan harga saham di pasar modal. akibat Sumarlin, bertujuan menekan inflasi yang meningkat hingga 8% dengan menarik dana badan usaha milik negara (BUMN) dari perbankan dan memindahkannya ke Bank Indonesia.
Kebijakan tersebut membuat likuiditas di perbankan menjadi sangat ketat
Lewati 5 Kali Krisis, Portofolio Lo Kheng Hong Pernah Amblas 85% Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 782977, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20261106131753-17-782977/lewati-5-kali-krisis-portofolio-lo-kheng-hong-pernah-amblas-85’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Mentari Puspadini, CNBC Indonesia 06 November 2026 13:27 Foto: Lo Kheng Hong (CNBC Indonesia/Houtmand P.
Saham-saham yang sebelumnya merugi kemudian berbalik memberikan keuntungan kepadanya.
Krisis kedua yang dihadapinya terjadi pada 1998 ketika Indonesia dilanda krisis moneter yang sangat parah.
Dengan demikian, dirinya tidak memiliki kewajiban membayar utang ketika harga saham anjlok akibat krisis ekonomi.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya menghadapi krisis pertama pada 1991 ketika pemerintah menerapkan kebijakan pengetatan likuiditas atau tight money policy.
Kebijakan yang dilakukan Menteri Keuangan saat itu, J.B.
Saragih) //FMG_Tag – IMPULSE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=impl’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – VIBE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=vibe’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – RC var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=rc’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – Expandedfloor var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=sf’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter);
Jakarta, CNBC Indonesia – Investor kawakan Lo Kheng Hong mengungkapkan perjalanan panjangnya berinvestasi di pasar modal Indonesia selama 37 tahun tidak selalu berjalan mulus.
Saat itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot dari sekitar Rp2.400 menjadi Rp14.850 per dolar AS, sementara suku bunga melonjak hingga 70%.
Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing maupun perbankan kesulitan memenuhi kewajibannya hingga mengalami kebangkrutan.
Faktor penyebabnya adalah banyak saham perusahaan bagus diperdagangkan sangat murah.
Krisis ketiga terjadi pada 2008 akibat krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. yang mengakibatkan Lo Kheng Hong mengibaratkan pengalamannya saat itu seperti menemukan berlian yang dijual dengan harga kerikil
Faktor penyebabnya adalah kondisi perekonomian Indonesia saat itu relatif lebih sehat setelah melewati krisis moneter 1998.
Ia juga menyinggung investor legendaris Warren Buffett yang memanfaatkan krisis 2008 untuk membeli saham Bank of America. yang mengakibatkan Gejolak tersebut turut menekan pasar saham Indonesia, tetapi menurut Lo Kheng Hong, dampaknya tidak berlangsung lama
Dengan ketersediaan uang tunai yang cukup, ia dapat memanfaatkan penurunan harga saham untuk menambah kepemilikan pada sejumlah emiten melalui harga lebih rendah.
Lo Kheng Hong pun bersyukur dapat melewati lima periode krisis selama 37 tahun berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Saya sudah tidak kerja istri saya ibu rumah tangga anak dua, uangnya tinggal 15%,” ujarnya.
Meski demikian, ia justru menemukan peluang investasi di tengah kejatuhan harga saham.
Faktor penyebabnya adalah Tuhan selalu menolong saya,” ujarnya dalam acara CMSE, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, (5/11/2026).
googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); Baca: IHSG Merah Tapi Asing Masuk Rp153,22 M di Sesi I, Serbu Saham 4 BUMN
Selain itu, Lo Kheng Hong mengaku selalu membeli saham menggunakan uang sendiri tanpa menggunakan pinjaman atau utang. yang mengakibatkan Menurut dia, terdapat dua hal utama yang membuatnya mampu bertahan menghadapi berbagai gejolak pasar, yakni pertolongan Tuhan dan tidak memiliki utang dalam berinvestasi.
“Saya bisa melewati lima krisis itu dari tahun 1991 sampai tahun 2026, yang pertama
Sejumlah bank juga mengalami masalah permodalan dan ditutup oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
“Saya lihat portofolio saya waduh minus 85%.
Dampak dari hal tersebut adalah dapat membeli saham ketika harganya sedang murah.
Strategi serupa kembali diterapkannya ketika pasar saham mengalami tekanan pada 2026. akibat Namun, Lo Kheng Hong mengaku memiliki cadangan uang tunai yang cukup besar
Lo Kheng Hong mengatakan nilai portofolionya saat itu sempat anjlok hingga 50%.
Namun, kondisi mulai membaik pada periode 1992-1993 seiring penurunan inflasi dan pelonggaran kebijakan pengetatan likuiditas secara bertahap.
Ia mengaku pernah mengalami penurunan nilai portofolio 50%-85% akibat berbagai krisis ekonomi yang melanda Indonesia.
Lo Kheng Hong mengatakan setidaknya terdapat lima krisis besar yang berhasil dilewatinya sejak mulai berinvestasi pada 1991 hingga 2026.
Analisis mendalam tentang Lewati 5 Kali Krisis, Portofolio Lo Kheng Hong Pernah Amblas 85% akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.
📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.
Sumber asli: https://www.equityworld-futures.com
📢 Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
📌 Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures: Klik di sini (Official website utama)
- Demo Account EWF: Klik di sini (Akun demo untuk latihan trading)
- Registrasi Online: Klik di sini (Pendaftaran member baru)
- Historical Data Trading: Klik di sini (Data historis pasar)
- Kontak Resmi: Klik di sini (Hubungi customer service)
- Profil Perusahaan: Klik di sini (Tentang PT Equityworld Futures)
🏢 Kantor Cabang Equityworld Futures:
PT Equityworld Futures memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia:
⚠️ Peringatan Risiko: Trading futures mengandung risiko kerugian yang signifikan. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami produk dan risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil masa depan.
