Bursa Asia Berguguran, Kospi Anjlok 5,6%

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Bursa Asia Berguguran, Kospi Anjlok 5,6% yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Dampak dari hal tersebut adalah menekan pasar saham global.

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah 1,2%, dengan tekanan terbesar berasal dari Korea Selatan yang mengalami penurunan tajam. akibat Data tersebut mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini,

Indeks Kospi anjlok 5,6%, sementara Nikkei 225 Jepang turun 1,3% dan kontrak berjangka S&P 500 terkoreksi 0,3%.

Kepala Riset Pepperstone Group, Chris Weston, mengatakan pasar Asia menghadapi sesi perdagangan yang kembali sulit.

Indeks S&P 500 turun 1,1%, Nasdaq Composite merosot 1,9%, sementara indeks saham semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index (SOX) memperpanjang penurunan untuk hari keenam berturut-turut.

Tekanan terutama melanda saham-saham teknologi yang sensitif terhadap kenaikan biaya pinjaman, termasuk Oracle dan CoreWeave.

Angka tersebut berlawanan melalui ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sebanyak 20.000 pekerjaan.

Investor selanjutnya akan mencermati pidato sejumlah pejabat The Fed yang berbicara di Bangkok, termasuk Ketua The Fed Kevin Warsh, untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS.

Prospek suku bunga yang lebih tinggi turut memperbesar kekhawatiran investor terhadap pembiayaan bisnis AI dan jadwal penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Analis JPMorgan menyebut inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memang menjadi pemicu awal aksi jual di pasar saham AS.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pasar kini memperhitungkan probabilitas sebesar 31,6% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28 Oktober, naik dari 22,1% sehari sebelumnya.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 4,4 basis poin menjadi 5,144%.

Bursa Asia Berguguran, Kospi Anjlok 5,6% Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 776337, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20261015084330-17-776337/bursa-asia-berguguran-kospi-anjlok-56’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia 15 October 2026 08:45 Foto: via REUTERS/Yonhap News Agency //FMG_Tag – IMPULSE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=impl’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – VIBE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=vibe’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – RC var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=rc’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – Expandedfloor var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=sf’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter);

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026), setelah inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada September meningkat lebih cepat dari perkiraan.

Pasar juga menantikan rilis data harga produsen (PPI) dan penjualan ritel AS yang dijadwalkan pada Kamis, serta laporan kinerja kuartal III-2026 dari produsen chip AI Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) pada sesi perdagangan Asia.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); (rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20261012112538-19-775289/video-investasi-pilihan-mi-saat-yield-obligasi-naik–rupiah-melemah”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/775289?comscore=off”,”time”:544,”title”:”Video: Investasi Pilihan MI Saat Yield Obligasi Naik – Rupiah Melemah”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/10/12/investasi-pilihan-bos-mi-saat-yield-obligasi-naik-volatilitas-rupiah-hingga-akhir-tahun-2026-1791780135423_169.png”}]’); Next Article Bursa Asia Dibuka Variatif, Investor Cermati Saham Chip dan Inflasi AS

Menurutnya, kontrak berjangka Kospi dan Nikkei mengindikasikan pelemahan lanjutan saham teknologi, di tengah perhatian investor terhadap arus dana ETF berleverage dan risiko kredit dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Baca:Asing Net Sell Rp1,16 Triliun Kala IHSG Menguat, Cek Deretan Sahamnya

Pada perdagangan Rabu waktu setempat, bursa saham Wall Street mencatatkan penurunan selama tiga hari berturut-turut setelah data inflasi konsumen AS melampaui ekspektasi pada September.

Sementara itu, dolar AS melemah 0,2% terhadap yen Jepang ke level 157,925 yen per dolar AS, sedangkan euro menguat 0,3% menjadi US$1,1194.

Dari Australia, dolar Australia melemah 0,2% menjadi US$0,6956 setelah data ketenagakerjaan menunjukkan penurunan jumlah pekerjaan sebanyak 39.300 pada September.

Namun, saham teknologi menjadi pendorong utama pelemahan, melalui risiko pendanaan dan jadwal IPO perusahaan AI masih menjadi perhatian investor.

Data indeks harga konsumen (CPI) AS tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam setahun ke depan, bahkan berpotensi pada pertemuan bulan ini.

Analisis mendalam tentang Bursa Asia Berguguran, Kospi Anjlok 5,6% akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *