Beban Naik, Deretan Kinerja Emiten Plastik RI Ini Terancam

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Beban Naik, Deretan Kinerja Emiten Plastik RI Ini Terancam yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Dampak dari hal tersebut adalah industri plastik dalam negeri berisiko kalah saing jika biaya masih tinggi.
“Produsen kita berpotensi tidak bisa menjual dengan harga yang kompetitif, bisa kalah saing dari produk China,” ujarnya.

Baca: Ada Investor Asing yang Jual 4,05 Juta Saham CPIN di Harga Rp3.132

Menurut Yosua, kombinasi harga bahan baku, nilai tukar, dan biaya pendanaan membuat 2026 menjadi tahun yang menantang bagi industri plastik. akibat Produsen China jauh lebih efisien dan mampu menekan biaya

Dampak dari hal tersebut adalah ketika input cost turun, penurunan tersebut berpotensi langsung terlihat pada gross margin dan laba,” tutup Yosua.

(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260928101540-19-771371/video-dolar-as-makin-perkasa-rupiah-dekati-rp-18000-per-usd”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/771371?comscore=off”,”time”:407,”title”:”Video: Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/09/28/dolar-as-makin-eprkasa-rupiah-anjlok-dekati-rp-18000-per-dolar-as-1790565607759_169.png”}]’); Next Article Laba Ramayana Semester I Anjlok 11%, Ini Penyebabnya akibat “Perusahaan sudah melakukan repricing dan efisiensi pada 2026,

Beban Naik, Deretan Kinerja Emiten Plastik RI Ini Terancam Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 771369, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260928101247-17-771369/beban-naik-deretan-kinerja-emiten-plastik-ri-ini-terancam’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Romys Binekasri,  CNBC Indonesia 28 September 2026 10:50 Foto: Ilustrasi pabrik kantong plastik.

//FMG_Tag – IMPULSE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=impl’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – VIBE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=vibe’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – RC var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=rc’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – Expandedfloor var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=sf’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter);

Jakarta, CNBCΒ Indonesia – Emiten plastik hilir menghadapi tekanan berlapis di tengah kenaikan beban pokok penjualan dan utang jangka pendek.

Perusahaan melalui neraca lebih sehat dan kemampuan lebih besar untuk meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada pelanggan cenderung memiliki daya tahan lebih baik.

“Tahun ini bisa dilihat sebagai stress test bagi perusahaan plastik.

Di sisi lain, PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) masing-masing mencatat penurunan laba.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

Di sisi lain, seluruh emiten tersebut tercatat mengalami kenaikan COGS mulai dari 12% hingga 52% dan utang bank jangka pendek double digit.

Baca: Batas Bawah Gocap Dihapus, 6 Saham Ini Kompak ARB dan Otw Rp1

Sekjen Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia Henry Chevalier mengatakan, kenaikan COGS dalam laporan keuangan emiten mencerminkan masih tingginya biaya produksi meskipun harga bahan baku sudah mulai mereda pada September tahun ini.

“Kalau kenaikan COGS ini masih terus berlanjut maka dengan sendirinya dapat mengikis laba perusahaan, jadi kami masih menunggu realisasi PMK terkait bea masuk bahan baku 0% yang dapat membantu penurunan beban tersebut,” kata Henry dikutip, Senin (28/9/2026).

Menurut dia, ketidakpastian regulasi dapat mengancam usaha industri plastik hilir di tengah ketergantungan impor bahan baku. sedangkan Faktor tersebut dapat menggerus laba emiten dan kemampuannya membayar dividen untuk tahun buku 2026.

Sebagian emiten masih mencatat pertumbuhan laba pada pengungkapan laporan keuangan terakhirnya seperti PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP) dan PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) yang semula rugi menjadi untung,

Relaksasi bea masuk impor bahan baku yang rencananya ditetapkan pemerintah sebesar 0% hingga kini belum terealisasi dan akan berdampak pada tingginya beban perusahaan tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, sejumlah emiten yang bergerak di sektor industri plastik hilir mencatatkan Cost of Goods Sales (COGS) dan liabilitas jangka pendek terutama utang bank yang meningkat dibandingkan tahun lalu.

Bukan hanya revenue growth yang perlu diperhatikan investor, tetapi apakah perusahaan mampu menjaga gross margin ketika resin naik dan pada saat yang sama mengendalikan leverage dan finance cost,” katanya

Yosua menambahkan, jika harga resin dan biaya logistik mulai normal pada 2027, emiten-emiten tersebut berpotensi mencatat margin recovery.

Faktor penyebabnya adalah sudah diberikan relaksasi bea masuk anti dumping maka yang 0% impor bahan baku itu hingga saat ini belum juga terealisasi, tapi paling tidak berikan kepastian untuk kami,” ujarnya.

Sementara itu, Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi mengatakan, kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan naphtha, bahan baku utama industri petrokimia, dapat merambat hingga ke harga resin yang digunakan produsen kemasan plastik.

“Pelemahan daya beli membuat perusahaan akan mengalami kesulitan untuk meneruskan kenaikan beban tersebut kepada konsumen akhir,” kata Yosua.

Emiten plastik kemasan rata-rata mencatat kenaikan COGS lebih dari 14% begitupun dengan utang jangka pendek terutama kepada bank yang juga akan berpengaruh pada beban keuangan di era suku bunga tinggi pasca kenaikan Fed Funds Rate awal bulan ini sebesar 25 basis poin ke level 3,75-4%.

“Ini akan berpotensi menekan volume penjualan yang berpengaruh pada kinerja keuangan. yang mengakibatkan Namun pihaknya mengapresiasi pemerintah atas relaksasi bea masuk anti dumping yang telah diterapkan belum lama ini.

“Saya tidak tahu apakah

Dampak dari hal tersebut adalah beban bunga emiten juga meningkat,” katanya.

Di saat yang sama, terjadinya oversupply di China menimbulkan tantangan baru bagi emiten plastik dalam negeri di tengah ketidakpastian kondisi global. akibat Selain itu, suku bunga the Fed yang meningkat dapat memicu suku bunga bank Indonesia meningkat pula,

Analisis mendalam tentang Beban Naik, Deretan Kinerja Emiten Plastik RI Ini Terancam akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

πŸ“‹ Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *