Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Per Hari Ini Bank Tumpuk SBN Tak Dapat Tambahan Insentif Likuiditas BI yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.
📚 Artikel Terkait yang Direkomendasikan
Karena itu, BI ingin mendorong distribusi likuiditas yang lebih efisien melalui pasar uang.
Namun di sisi lain, terdapat bank yang memiliki porsi surat berharga relatif besar, sementara pertumbuhan kreditnya belum optimal.
Baca: Danantara Bidik Investasi Rp1.200 T di 2027, DPR: Dari Mana Saja?
Revisi Aturan DHE-Insentif BI Berlaku, Inflasi Jadi Sorotan
Melalui pembaruan skema insentif ini, BI ingin memastikan kebijakan tambahan likuditas benar-benar digunakan untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan, bukan untuk menambah kepemilikan surat-surat berharga (SSB).
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengatakan, bank melalui porsi kepemilikan surat berharga yang sudah tinggi dari ambang batas rasio 19% dari total pendanaan tidak akan memperoleh tambahan insentif likuiditas.
“Kalau anda SSB-nya lebih dari 19 persen, surat-surat berharganya, ya kita tidak tambahin lagi,” ujar Alexander dalam Taklimat Media BI, Jakarta, dikutip hari ini.
Dalam kebijakan baru tersebut, BI akan menyediakan tambahan insentif likuiditas sebesar 2% dalam rangka pendalaman pasar uang (PPU) itu.
Dampak dari hal tersebut adalah likuiditas dapat mengalir ke bank yang membutuhkan pendanaan.
“Harapan kita tadi sebenarnya itu tercipta di pasar uangnya. akibat Bank yang memiliki kelebihan likuiditas dan kepemilikan surat berharga tinggi diharapkan dapat melakukan transaksi repo
Penyaluran terbesar berasal dari kelompok bank BUMN dan bank swasta nasional.
(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260826122627-19-762327/video-fitch-destry-damayanti-jadi-nakhoda-bi-bantu-perkuat-rupiah”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/762327?comscore=off”,”time”:59,”title”:”Video: Fitch: Destry Damayanti Jadi Nakhoda BI Bantu Perkuat Rupiah”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/08/26/fitch-destry-damayanti-jadi-nakhoda-bi-bantu-perkuat-rupiah-1787727559766_169.png”}]’); Next Article BI Ubah Skema Insentif Likuiditas Bank 1 September, Ini Aturannya!
Per Hari Ini Bank Tumpuk SBN Tak Dapat Tambahan Insentif Likuiditas BI Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 763827, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260901073633-17-763827/per-hari-ini-bank-tumpuk-sbn-tak-dapat-tambahan-insentif-likuiditas-bi’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Robertus Andrianto, CNBC Indonesia 01 September 2026 08:20 Foto: REUTERS/Iqro Rinaldi //FMG_Tag – IMPULSE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=impl’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – VIBE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=vibe’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – RC var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=rc’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – Expandedfloor var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=sf’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter);
Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) mulai hari ini, Selasa (1/9/2026) akan lebih selektif menggelontorkan insentif likuiditas kepada perbankan, melalui pembaruan skema insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM).
KLM itu sendiri merupakan insentif berupa pengurangan giro wajib minimum (GWM) perbankan kepada BI, supaya dapat memberikan ruang dana bagi bank untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif dan prioritas.
googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); Baca: Hari Ini!
Karena bank-bank yang tadi yang kekurangan ini yang akan butuh SSB,” katanya.
Hingga saat ini, realisasi KLM tercatat mencapai sekitar Rp447 triliun atau setara 5% dari dana pihak ketiga (DPK).
Faktor penyebabnya adalah likuiditas digunakan untuk pembiayaan. yang mengakibatkan Sementara itu, insentif untuk pembiayaan sektor-sektor produktif tetap diberikan hingga 4%.
Dengan demikian, komposisi KLM yang selama ini mencapai sekitar 5,5% akan disesuaikan menjadi 4% untuk pembiayaan sektor produktif dan 2% untuk insentif dalam rangka pendalaman pasar uang itu.
Alexander menjelaskan perubahan kebijakan tersebut didasarkan pada hasil pemantauan BI terhadap perilaku portofolio perbankan yang berbeda-beda.
Sebagian bank tercatat agresif menyalurkan kredit sehingga kepemilikan surat berharganya menurun
Analisis mendalam tentang Per Hari Ini Bank Tumpuk SBN Tak Dapat Tambahan Insentif Likuiditas BI akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.
📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.
Sumber asli: https://www.equityworld-futures.com
📢 Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
📌 Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures: Klik di sini (Official website utama)
- Demo Account EWF: Klik di sini (Akun demo untuk latihan trading)
- Registrasi Online: Klik di sini (Pendaftaran member baru)
- Historical Data Trading: Klik di sini (Data historis pasar)
- Kontak Resmi: Klik di sini (Hubungi customer service)
- Profil Perusahaan: Klik di sini (Tentang PT Equityworld Futures)
🏢 Kantor Cabang Equityworld Futures:
PT Equityworld Futures memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia:
⚠️ Peringatan Risiko: Trading futures mengandung risiko kerugian yang signifikan. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami produk dan risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil masa depan.
