Bos The Fed Bikin Pasar Kaget, Suku Bunga AS Berpotensi Naik

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Bos The Fed Bikin Pasar Kaget, Suku Bunga AS Berpotensi Naik yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Saham juga mendapat dorongan setelah kinerja Nvidia meredakan kekhawatiran terkait permintaan chip kecerdasan buatan (AI).

Adapun S&P 500 kini hanya sekitar 1% dari level tertinggi sepanjang masa.

Namun, September secara historis menjadi salah satu bulan yang cukup bergejolak bagi pasar saham.

Pasalnya, pasar kini bisa memberikan tekanan agar bank sentral menaikkan suku bunga pada September, meski kondisi ekonomi belum tentu membutuhkan kebijakan tersebut.

“Pada dasarnya Anda telah memberi sinyal kepada pasar bahwa The Fed kurang lebih akan menaikkan suku bunga.

Indeks Russell 2000 turun 1,4%, sementara sektor industri S&P 500 melemah 1%.

Kepala Investasi Alphastar Capital Management, Tony Parish, menilai Warsh masih membiarkan arah kebijakan moneter terbuka.

“Warsh meninggalkan banyak hal dalam ketidakpastian.

Angka itu melonjak dari sekitar 35% pada Kamis, (27/8/2026) kemarin.

Sinyal tersebut sekaligus meredakan kekhawatiran bahwa Warsh akan enggan menaikkan suku bunga akibat tekanan Presiden Donald Trump.

Setelah rapat The Fed pada Juli, yield Treasury 30 tahun sempat menembus 5,3%, level tertinggi sejak 2007.

Kondisi itu mendorong Departemen Keuangan AS pekan lalu mengumumkan rencana untuk setidaknya menggandakan pembelian obligasi pemerintah jangka panjang melalui program buyback.

Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan, program tersebut ditujukan untuk menekan yield obligasi jangka panjang yang dinilainya tidak mencerminkan fundamental ekonomi AS.

Langkah tersebut tampaknya mulai memberikan dampak.

Bos The Fed Bikin Pasar Kaget, Suku Bunga AS Berpotensi Naik Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 763341, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260829203409-17-763341/bos-the-fed-bikin-pasar-kaget-suku-bunga-as-berpotensi-naik’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Martya Rizki,  CNBC Indonesia 29 August 2026 22:00 Foto: REUTERS/Eric Lee //FMG_Tag – IMPULSE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=impl’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – VIBE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=vibe’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – RC var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=rc’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag – Expandedfloor var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement(‘script’); _ContextAdsPublisher.type = ‘text/javascript’; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = “cads-generic”; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + ‘//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=sf’; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter);

Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh, mengejutkan pasar melalui sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) masih melihat risiko inflasi sebagai persoalan serius.

Yield Treasury 30 tahun ditutup di 5,207% pada Jumat (28/8/2026), turun dari 5,266% pada Rabu sebelum pengumuman buyback.

Namun, yield Treasury 10 tahun justru naik menjadi 4,721%, dibandingkan 4,671% pada Kamis dan 4,682% sebelum pengumuman buyback.

Yield obligasi bergerak berlawanan melalui harga obligasi dan mencerminkan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.

Sebulan kemudian, pasar justru dibuat gelisah setelah sejumlah pernyataannya memunculkan pertanyaan mengenai kesediaannya menerjemahkan kekhawatiran tersebut ke dalam kebijakan moneter.

Di tengah pasar saham yang masih mencatat kenaikan dalam beberapa bulan terakhir, gejolak justru lebih terasa di pasar obligasi.

Dow Jones Industrial Average turun kurang dari 0,1%, S&P 500 melemah 0,2%, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,5%.

Pergerakan ini jauh lebih moderat dibandingkan reaksi pasar setelah dua penampilan Warsh sebelumnya sebagai ketua The Fed, yakni dalam konferensi pers setelah rapat pada Juni dan Juli.

Pada Juni, Warsh sempat mengejutkan investor melalui mengungkapkan kekhawatirannya terhadap inflasi.

Jika ada perubahan dalam kepastian, itu mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga yang tidak disukai pasar,” kata Parish.

Sementara itu, investor saham sejauh ini relatif mengabaikan gejolak pasar obligasi dan lebih fokus pada musim laporan keuangan yang kuat.

Pernyataan tersebut langsung mengerek imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS, terutama tenor jangka pendek, sekaligus menekan pasar saham.

Melansir The Wall Street Journal (WSJ), Warsh mengatakan The Fed mungkin masih perlu “berusaha lebih keras” untuk mengendalikan inflasi.

Pernyataan ini membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September mendatang.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); Baca: Ternyata Ini Alasan Wadirut GoTo Catherine Hindra Mundur

Berdasarkan data CME Group, kontrak berjangka suku bunga kini mencerminkan peluang sekitar 58% The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Kekhawatiran itu sebelumnya turut mendorong kenaikan yield Treasury jangka panjang yang menjadi salah satu acuan biaya pinjaman di perekonomian AS.

Namun, sebagian investor justru menilai pernyataan Warsh membuat The Fed berada dalam posisi sulit.

Saya hanya tidak yakin bahwa ketika data masuk, hal itu akan terjadi,” kata Kepala Divisi Pendapatan Tetap Amerika di DWS George Catrambone, dikutip dari WSJ, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Catrambone, kenaikan suku bunga berpotensi menekan perekonomian ketika konsumen mulai menunjukkan pelemahan.

Dengan pertemuan The Fed berikutnya, yang dijadwalkan pada 16 September 2026, investor masih menunggu data ekonomi selanjutnya untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga.

Kepala Strategi Makro LPL Financial, Kristian Kerr mengatakan, pernyataan Warsh belum memberikan kepastian mengenai keputusan The Fed.

“Masih ada unsur mencoba memahami (Warsh).

Itu akan berlanjut untuk sementara waktu,” kata Kerr.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260826114341-19-762310/video-jika-suku-bunga-the-fed-belum-dipangkas-ini-efeknya-ke-bi-rate”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/762310?comscore=off”,”time”:398,”title”:”Video: Jika Suku Bunga The Fed Belum Dipangkas, Ini Efeknya ke BI Rate”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/08/26/bi-rate-diramal-tidak-akan-turun-jika-suku-bunga-the-fed-belum-dipangkas-1787720052969_169.png”}]’); Next Article MSCI Tendang 10 Saham, IHSG Pagi Ini Turun 0,43%

Faktor penyebabnya adalah investor mempertanyakan kredibilitas Warsh dalam mengendalikan inflasi.

Pasar Saham Relatif Tenang

Meski mengejutkan, respons pasar saham terhadap pernyataan Warsh terbilang terbatas. yang mengakibatkan Sebaliknya, jika The Fed tidak menaikkan bunga, pasar obligasi jangka panjang berisiko kembali mengalami aksi jual

Kenaikan suku bunga biasanya lebih cepat mendorong yield obligasi jangka pendek, sementara dalam jangka panjang, suku bunga yang lebih tinggi juga dapat menekan inflasi dan mengurangi kebutuhan kenaikan bunga yang lebih agresif di masa depan.

Pasar Masih Menebak Arah The Fed

Tekanan juga terlihat pada saham-saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi.

Analisis mendalam tentang Bos The Fed Bikin Pasar Kaget, Suku Bunga AS Berpotensi Naik akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *