Harga Minyak Menguat, Pasar Masih Dibayangi Konflik AS-Iran

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Harga Minyak Menguat, Pasar Masih Dibayangi Konflik AS-Iran yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Media Iran juga melaporkan sejumlah ledakan di bagian selatan negara itu, termasuk di Bushehr yang menjadi lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.

Konflik yang belum sepenuhnya mereda ikut menunda pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh.

Brent telah naik sekitar 6% dibandingkan awal pekan, sedangkan WTI menguat sekitar 5%.

Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia dikirim melalui selat tersebut.

Harga Minyak Menguat, Pasar Masih Dibayangi Konflik AS-Iran Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 749708, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260710100345-17-749708/harga-minyak-menguat-pasar-masih-dibayangi-konflik-as-iran’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia 10 July 2026 10:35 Foto: CNBC Indonesia/Rivi Satrianegara

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak dunia bergerak tipis menguat pada perdagangan Jumat (10/7/2026), tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan yang cukup solid.

Analis komoditas senior ANZ, Daniel Hynes, mengatakan keputusan tersebut mengurangi kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak secara besar-besaran.

Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 10.00 WIB, harga minyak Brent kontrak September (LCOc1) berada di US$76,56 per barel, naik 0,34% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$76,30 per barel.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus (CLc1) diperdagangkan di US$72,34 per barel, menguat 0,36% dari posisi sehari sebelumnya di US$72,08 per barel.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); });

Secara mingguan, reli minyak masih terjaga.

Sentimen itu diperkuat pernyataan Trump yang menilai konflik tidak akan kembali berkembang menjadi perang skala penuh dan jika terjadi eskalasi, dampaknya diperkirakan berlangsung singkat.

Pasar juga mulai memperhitungkan risiko perlambatan permintaan energi.

Faktor penyebabnya adalah insiden tersebut terjadi di tengah gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan. yang mengakibatkan Serangan tersebut merupakan balasan atas operasi militer AS terhadap wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.

Baca: Yen Pimpin Asia Tendang Dolar, Rupiah – Ringgit Perkasa, Won Jatuh

Situasi semakin rumit

Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak sempat tertekan hingga mendekati US$72 per barel untuk Brent dan US$68 per barel untuk WTI pada awal Juli.

//

Pergerakan harga masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Di Amerika Serikat, jumlah klaim tunjangan pengangguran turun pada pekan lalu, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih bertahan meski laju perekrutan melambat.

Reuters melaporkan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk pada Kamis (9/7/2026).

Setiap gangguan di kawasan ini langsung memicu kekhawatiran mengenai keamanan pasokan energi global.

Meski demikian, pasar memperoleh sedikit ketenangan setelah pemerintahan Presiden Donald Trump tidak menyerang infrastruktur energi Iran.

Faktor penyebabnya adalah China merupakan konsumen minyak terbesar kedua di dunia setelah AS.

CNBCΒ Indonesia Research

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260622104120-19-744546/video-emas-terpuruk-tapi-harga-minyak-meroket-efek-panas-selat-hormuz”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/744546?comscore=off”,”time”:219,”title”:”Video: Emas Terpuruk Tapi Harga Minyak Meroket Efek Panas Selat Hormuz”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/06/22/harga-emas-terpuruk-tapi-harga-minyak-meroket-efek-panas-selat-hormuz-1782102867059_169.png”}]’); Next Article Usai Anjlok 3%, Harga Minyak Naik ke US$78,11 yang mengakibatkan Kondisi ini menjaga ekspektasi bahwa aktivitas ekonomi AS belum mengalami pelemahan tajam.

Sementara itu di China, inflasi harga produsen (producer price inflation) pada Juni melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Kenaikan biaya di tingkat produsen menambah tekanan terhadap margin perusahaan manufaktur, di saat permintaan domestik masih lemah dan kemampuan pelaku usaha untuk menaikkan harga jual terbatas.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang kenaikan minyak

Jalur pelayaran ini merupakan salah satu titik paling vital bagi pasar energi global.

Analisis mendalam tentang Harga Minyak Menguat, Pasar Masih Dibayangi Konflik AS-Iran akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

πŸ“‹ Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *