Bupati Cianjur Bergelimang Harta, Rakyat Jadi Korban Tanam Paksa

Equityworld Futures – Berikut informasi terkini tentang Bupati Cianjur Bergelimang Harta, Rakyat Jadi Korban Tanam Paksa yang telah diverifikasi dan disajikan dalam format yang mudah dipahami.

Pada 1806, produksinya bahkan mencapai sekitar 1,5 juta kopi.

Kekayaan ini kemudian mengangkat posisi elite lokal, termasuk bupati.

Di saat pulangnya mereka membawa candu, tembakau, dan katun, barang-barang yang akan dijual kepada kepala bawahannya,” tulis Breman.

Kemewahan ini bahkan berdampak langsung ke daerah lain.

Kondisi ini turut mengangkat status sosial para elite lokal, termasuk bupati, yang menikmati limpahan kekayaan dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-1733811845679-0’); }); Baca: Candi Borobudur Ternyata Ditemukan Warga Tionghoa, Ini Sosoknya

Sejarawan Belanda Jan Breman dalam bukunya Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Perdagangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870 (2014) mencatat, pada masa tanam paksa (1830-1870), Cianjur menjadi penghasil kopi terbesar di wilayah Priangan.

Jan Breman mencatat, sang bupati kerap berkeliling menggunakan kereta berlapis emas, layaknya bangsawan besar.

Baca: Playboy Betawi Hobi Flexing, Cebok Pun Pakai Uang Kertas

“Layaknya tuan besar konsumtif, mereka berbelanja barang mewah melalui harga tinggi.

Bupati Cianjur Bergelimang Harta, Rakyat Jadi Korban Tanam Paksa Comment SHARE url telah tercopy const copyurl = document.getElementById(“copyurl”); const notif = document.querySelector(“.notif”); const copyThis = function () { navigator.clipboard.writeText(window.location.href); notif.classList.remove(“opacity-0”); notif.classList.add(“opacity-100”); setTimeout(() => { document.querySelectorAll(“.notif”).forEach((el) => { el.classList.remove(“opacity-100”); el.classList.add(“opacity-0”); }); }, 600); }; copyurl.addEventListener(“click”, () => { copyThis(); }); var article = { idnews : 744261, idkanal : 17 }; var baseurl = ‘https://www.cnbcindonesia.com/market/20260620143844-17-744261/bupati-cianjur-bergelimang-harta-rakyat-jadi-korban-tanam-paksa’; $(document).ready(function () { setTimeout( function() { shareBox.run($(‘.cnbc-share-top’)) shareBox.countComment($(‘.count-komentar’)); }, 1000 ); }); M Fakhri,  CNBC Indonesia 20 June 2026 18:45 Foto: Sawah di Cianjur.

Faktor penyebabnya adalah hasil komoditas perkebunan yang melimpah.

Kemakmuran tersebut ditopang oleh produksi kopi yang sangat besar. yang mengakibatkan Terutama

Mereka memperoleh pemasukan dari gaji, pajak, hingga praktik feodalisme yang tidak tertulis.

Namun, kemakmuran itu tidak dirasakan oleh rakyat.

(CNBC Indonesia/Suhendra)

Jakarta, CNBC Indonesia – Wilayah Cianjur dikenal sebagai daerah yang sangat makmur di Pulau Jawa.

Rakyat justru menanggung beban berat dari sistem tanam paksa kopi.

Dalam catatan sejarah, Cianjur menjadi salah satu pusat produksi kopi utama di wilayah Priangan, bahkan mencapai angka produksi yang sangat tinggi pada masanya.

Kabupaten diposisikan sebagai panggung, melalui bupati sebagai aktor utama yang harus menampilkan kemegahan.

“Kabupaten adalah ibarat panggung pertunjukan dengan bupati sebagai pemeran utama yang harus berakting hebat,” ungkap Nina.

Pada akhirnya, sejarah menunjukkan pola yang terus berulang.

Pegawai kolonial asal Belanda, Multatuli, dalam novelnya Max Havelaar (1860), menyoroti bagaimana kunjungan Bupati Cianjur ke Lebak justru membebani wilayah yang disinggahi.

Menurutnya, bupati datang melalui rombongan besar yang harus ditanggung oleh daerah setempat.

“Ratusan orang itu yang semuanya harus ditampung dan diberi makan, begitu juga kuda-kudanya,” tulis Multatuli.

Baca: Gagal Penuhi Target, Seluruh Anggota Kabinet Mengundurkan Diri

Menurut Nina Herlina Lubis, kondisi ini tidak lepas dari cara pandang kekuasaan saat itu.

Kerja keras para petani menjadi fondasi kekayaan daerah, tetapi hasilnya lebih banyak mengalir ke kas kolonial dan dinikmati oleh elite lokal, termasuk bupati.

Terlebih, Bupati Cianjur justru dikenal melalui gaya hidup mewah.

Menurut sejarawan Nina Herlina Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan, 1800-1942 (1998), para bupati merupakan kelompok paling kaya di wilayahnya.

Kekuasaan kerap berjalan beriringan melalui kemewahan elite, sementara rakyatnya tetap menanggung penderitaan.

(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google [Gambas:Video CNBC]
var relatedVideos = JSON.parse(‘[{“pageUrl”:”https://cnbcindonesia.com/market/20260617151705-19-743413/video-elektrifkasi-tambang-produsen-china-siap-pasok-alat-berat-ev”,”embedUrl”:”https://www.cnbcindonesia.com/embed/video/743413?comscore=off”,”time”:581,”title”:”Video: Elektrifkasi Tambang, Produsen China Siap Pasok Alat Berat EV”,”animatedUrl”:””,”imageUrl”:”https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/06/17/alat-berat-listrik-masuk-tambang-produsen-china-siap-pasok-kebutuhannya-1781686106946_169.png”}]’); Next Article Emas 30.000 Ton Ditemukan di Banten, Hasilnya Dirampok Asing

Analisis mendalam tentang Bupati Cianjur Bergelimang Harta, Rakyat Jadi Korban Tanam Paksa akan terus dilakukan untuk memberikan insight terbaik bagi investor dan pelaku pasar.

📋 Sumber Artikel: Informasi dalam artikel ini diseleksi dan dianalisa oleh Tim Riset Equityworld Futures Manado berdasarkan data market global terkini, laporan media sosial, dan referensi dari portal berita internasional terpercaya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Equityworld Futures tidak mengklaim kepemilikan atas konten asli. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *